Prestasi Klub-klub Sepak Bola Indonesia: antara kampungan dan cengeng

Judul diatas sengaja saya pilih, tetapi saya tidak berniat menghujat atau merendahkan bangsa ini, saya cinta bangsa Indonesia ini!

Hari ini saya baca koran dan betapa kagetnya saya setelah membacanya (sebelumnya saya juga sudah tahu). Kenapa tidak kaget, lihat saja perilaku hampir semua klub-klub peserta liga divisi utama, ternyata mereka terus-terus mengemis untuk minta uang ke  Pemerintah Daerah setempat dimana mereka berada.

Dan tidak tanggung-tanggung nyaris lebih setengah dari dana klub-klub ini diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setempat. Jadi artinya kalau Pemerintah Daerah setempat berhenti memberikan uang klubnya bakal bangkrut.

Dan anggaran dari pemerintah daerah tersebut ternyata prosentasenya sangat besar. Ada daerah yang APBD sebenarnya sangat minim eh mereka (Pemerintah Daerah setempat, red) malah memberikan dan menghamburkan uang untuk klub sepakbola sampai puluhan milyar rupiah. Sungguh mencengangkan! Kenapa itu anggaran tidak dialokasikan untuk pendidikan gratis untuk memenuhi kuota 20 % untuk anggaran pendidikan dari total APBD sesuai dengan amanat UUD 1945?

Dan ada satu ya aneh lagi, ternyata masyarakat tidak pernah protes ke DPRD atau Pemerintah daerah (Pemda) setempat tentang fenomena ini, padahal uang tersebut sangat besar nilainya.

Di negera lain, klub-klub itu tidak pernah meminta uang apalagi mengemis ke pihak manapun. Mereka profesional dan mendapat uang dari sponsor mereka dan penjualan tiket pertandingan mereka.

Tetapi di Indonesia aneh dan ajaib, uang rakyat malah dihamburkan untuk klub-klub itu yang prestasi mereka juga sangat menyedihkan dan tragis!: tawuran dimana-mana oleh pendukung mereka, pemain yang kasar terhadap wasit dan masih bayak lagi.

Jadi tidak salah kalau klub-klub sepak bola di Indonesia saya juluki kampungan dan cengeng, anda sependapat? atau malah kontra? Terserah yang jelas ini realita.

If you liked this post, say thanks by sharing it 🙂

Buy and Sell text links



Artikel terkait:

  • Indonesia Patut Belajar Dari IrakIndonesia Patut Belajar Dari Irak "Kalau Irak bisa juara, Indonesia mestinya bisa juga donk. Indonesia punya stadiun gede begini (Stadiun Gelora Bung Karno maksudnya), kalau Irak mereka tidak punya lapangan sepakbola, […]
  • Nistar Cup 2015Nistar Cup 2015 Paguyuban warga Nias yang ada di Tangerang yakni Nistar Family di awal tahun 2015 ini menyelenggarakan kompetisi futsal perdana "Nistar Cup 2015", final berlangsung di lapangan futsal City […]
  • Tanpa Gelar Lagi Indonesia?Tanpa Gelar Lagi Indonesia? Tidak diragukan lagi bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga populer di Indonesia dan selalu mengharumkan nama bangsa di dunia olahraga misalnya di tingkat Olimpiade dan di […]
  • Suporter Bola Jadi Suporter Dadakan Tim Uber & Thomas 2008? Boleh Juga!Suporter Bola Jadi Suporter Dadakan Tim Uber & Thomas 2008? Boleh Juga! Pernah dengar cerita yang menggambarkan kalau suporter fanatik sepakbola tiba-tiba beralih "profesi" menjadi suporter dadakan olahraga lain seperti bulu tangkis? Apakah kejadian seperti […]

Comments are closed.

Get Adobe Flash player