Sepak Bola Indonesia, sudah profesional kah?

26 January 2007

Waktu baca baca koran Kompas aku kaget setengah kesal perilaku klub-klub sepak bola peserta Liga Indonesia 2007 yang sebagian besar mengandalkan biaya operasional mereka dari keungan Pemerintah Daerah (PemDa) setempat. Jadi aku bisa maklumi kalau sebagian besar pecinta sepak bola di Indonesia malah suka menonton Liga-liga Eropa bukan Liga Indonesia malah, karena liga-liga Eropa itu sangat jauh berkualitas dibanding dengan liga Indonesia.

Berikut daftar klub peserta liga Indonesia tahun 2007 (sumber: Kompas, 12 Januari 2007):

Wilayah Barat:
1. Persiraja Banda Aceh
2. PSSB Bireun
3. PSMS Medan
4. PSDS Deli Serdang
5. Semen Padang
6. Sriwijaya FC
7. Pelita Jaya
8. Persita Tangerang
9. Persikota Tangerang
10. Persikabo Kabupaten Bogor
11. Persitara Jakarta Utara
12. Persija Jakarta
13. Persib Bandung
14. PSIS Semarang
15. PSS Sleman
16. Persik Kediri
17. Persema Malang
18. Persela Lamongan
Wilayah Timur:
1. Persipura Jayapura
2. Persiwa Wamena
3. Persiter Ternate
4. Persmin Minahasa
5. Persibom Bolaang Mongondow
6. PSM Makasar
7. Bontang PKT
8. Persiba Balikpapan
9. Persegi Gianyar
10. Perseman Monokwari
11. Persma Manado
12. Persebaya Surabaya
13. Persis Solo
14. Persijap Jepara
15. PSIM Yogyakarta
16. Deltras Sidoarjo
17. Arema Malang
18. Persekabpas Kapupaten Pasuruan

Kata “profesional” kurang lebih pengertiannya sudah ahli, mampu melakukan sesuatu inovasi, tidak tergantung dari pemberian atau subsidi orang lain atau singkatnya profesional itu bukan amatiran. Pengertian ini gak ada di kamus, hanya menurut pendapat Kris.

Nah dari ilustrasi diatas, kalau aku kaitkan dengan klub-klub sepak bola di Indonesia, jadinya begini: klub-klub sepakbola itu mestinya tidak mengharapkan pemberian subsidi dari pemerintah daerah donk mestinya.

Nah, sebagian besar klub-klub peserta liga Indonesia tahun 2007 diatas mengandalkan pemasukan keuangan (dana) dari Pemerintah Daerah (PemDa) lewat Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) daerah setempat dimana klub itu berada. Masing-masing klub meminta dana dari pemerintah Daerah bervariasi akan tetapi umumnya kurang lebih 15 Milyar, dananya besar sekali kan?

Coba kalau pemerintah Daerah memberhentikan aliran dana ini bagi klub-klub ini, maka bisa dipastikan mereka akan bangkrut. Ada satu yang aneh, hampir semua klub sepakbloa profesional di dunia tidak pernah di subsidi pemerintah setempat karena mereka mengandalkan keuangan dari sponsor tapi di Indonesia lain.

Klub-Klub Sepakbola Indonesia Masih Amatiran

Siapa yang tidak kenal Persija Jakarta? mereka di kenal selain karena ada di Jakarta, mereka juga terkenal dari JakMania yang kadang-kadang bikin ulah kalau klub kesayangan mereka kalah.

Nah Persija Jakarta ini juga mengandalkan keuangan dari hasil “mengemis” dana APBD dari pemerintah DKI. Jadi layakkah menyebut Persija Jakarta sudah profesional? jawabnya masih jauh! mereka masih amatiran. Jadi wajar saja olahraga di Indonesia semakin terpuruk. Amatiran disebut profesional, Tanya kenapa!

Masih ada juga klub yang Profesional

Dari 32 klub diatas masih ada juga yang aku nilai profesional bahkan profesional (walau prestasi mereka belum terlalu menggembirakan) dan tidak jadi beban keuangan pemerintah daerah yaitu:
1. Semen Padang
2. Pelita Jaya
3. PKT Bontang
4. Arema Malang

Nah mereka ini baru profesional karena mengandalakan keuangan dari sponsor mereka sendiri bukan dari hasil “mengemis-ngemis” dari sisa Anggaran Pendapatan Daerah setempat.

Artikel terkait:

Dapatkan artikel terbaru mendrofa.com via email, silahkan isi email Anda di formulir berikut:


Delivered by FeedBurner

Maaf, formulir komentar artikel yang sedang Anda baca telah ditutup untuk menghindari spammer. Silahkan mengirimkan email ke kris(at)mendrofa(dot)com / kunjungi www.mendrofa.com/contact untuk mengomentari artikel ini. Terima kasih atas perhatiannya.

soft download