Republik Kupret
Sebenarnya saya bingung mau kasih apa judul postingan ini, daripada tanpa judul mending kasih judulnya “Republik Kupret” saja deh. Lalu apa yang saya mau tulis dalam postingan ini? sebenarnya sederhana: hal-hal yang lucu, konyol, menyebalkan yang kita lihat atau minimal yang saya lihat akhir-akhir ini.
Siang kemarin misalnya saya sedikit kesal lalu ketawa lalu bingung lalu gak habis pikir lalu beri kesimpulan: biarin aja lah… emang gue pikirin! Anda yang baca saja sedikit kesal kan? wong kata lalunya banyak amat, la lu la lu la lu, lu….. lagi cuape deh……
Ceritanya begini ketika sedang di perempatan lampu merah, saya mau menyeberang karena sudah lampu hijau dan kendaraan dari kedua arah yang berlawanan juga tentunya sudah boleh jalan tetapi apa yang terjadi? tiba-tiba ada suara sirene mengaung-ngaung dengan iringan puluhan motor dan sedikitnya 3 mobil “patroli” dan tentunya lampu merahpun pasti diterobos dengan modal sirene tadi bahkan mereka terlihat arogan ketika pengendara lain tidak mau memberi jalan .
Ternyata iring-iringan yang barusan lewat tadi, bukan patroli pengawal pejabat negara atau mobil patroli dari kepolisian atau mobil yang diperbolehkan/dilegalkan memakai sirene. Ternyata “patroli” tadi adalah milik masyarakat sipil yang tergabung dalam salah satu organisasi. Sebagai gambaran, mobil yang disulap menjadi “mobil patroli” itu terkesan seperti mobil salah satu pasukan elit dengan tulisan komando disertai nama organisasi mereka, padahal sesuai ketentuan mobil masyarakat/organisasi sipil tidak boleh memakai sirene.
Lalu ada lagi yang membuat saya sedikit kesal lalu ketawa lalu bingung lalu gak habis pikir lalu beri kesimpulan: biarin aja lah… emang gue pikirin!
Ya, sikap terlalu perasa dan betapa tersinggungnya elit politik kita kalau sedikit saja “kepentingan/nama baik” mereka sedikit disentil padahal sudah jelas nama tokoh yang bersangkutan tidak disebut secara langsung tetapi tetap saja memprotes dan bahkan menyewa pengacara tidak tanggung-tanggung puluhan orang entah berapa biaya yang dikeluarkan untuk menyewa pengacara-pengacara itu, padahal kalau seandainya masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan atau bahkan dianggap angin lalu saja dan dianggap wajar dalam kehidupan berdemokrasi yang kita anut, waktu mauoun dana yang dikeluarkan itu bisa dipakai untuk amal misalnya atau disumbangkan ke masyarakat miskin atau kegiatan yang ada “manfaatnya”. wah saya jadi takut juga nih, jangan-jangan saya disomasi juga karena menulis artikel ini, maaf deh kalau tersinggung bung/pak, ini suara hati saya.
Ada satu hal lagi dari puluhan hal yang membuat edikit kesal lalu ketawa lalu bingung lalu gak habis pikir lalu beri kesimpulan: biarin aja lah… emang gue pikirin!
Kali ini mengenai pemilu 2009, KPU mengharuskan media massa untuk memberikan porsi yang adil dan merata dalam pemberitaan mereka. Baik, porsi yang adil dan merata itu bagus dan memang perlu dikembangkan. Tetapi kalau KPU mengancam menindak mereka dengan menarik SIUP (surat izin usaha penerbitan) media massa yang dianggap melanggar ketentuan? Nah ini yang konyol dan terkesan mengada-ada atau kalau saya bilang (maaf) bodoh karena sudah jelas-jelas SIUP tidak berlaku lagi, nah mau cabut SIUP apa mereka? wong SIUP gak pernah ada, edan!
Lalu saya sedikit berpikir bahkan paranoid, kalau media massa saja mau dicabut surat izinnya walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu dicabut karena gak ada yang pantas dicabut, kalau blogger melanggar “ketentuan” lalu yang dicabut apanya? untung kerisauan ini tidak lama mengalir dalam benak saya, karena dalam satu kesempatan Menkoninfo M. Nuh sudah berjanji bahwa tidak ada penangkapan terhadap blogger kalau tindakan mereka sesuai ketemtuan, saya baru deh lega. gw jadi mikir yang aneh-aneh nih, kupret…!!
Comments (4)


[...] semuanya membahas tentang blog, blog dan blog lagi, asyikkan? dan bukan sedang berada di Republik Kupret yang menyebalkan seperti pada postingan saya [...]
[...] semuanya membahas tentang blog, blog dan blog lagi, asyikkan? dan bukan sedang berada di Republik Kupret yang menyebalkan seperti pada postingan saya [...]
@dikma: Iya nih,selanjutnya republik apalagi?
Macam-macam ya sekarang Republiknya