Yes You Can (2)

“…… Ahirnya pelantikan Barack Obama benar-benar terjadi walaupun dalam keadaan sederhana, jutaan warga berkumpul di sekitar lokasi pelantikan, jutaan warga Amerika lainnya menyaksikan proses pelantikan lewat berbagai media elektronik: televisi, radio, internet dan sebagainya dan bahkan tidak luput juga penduduk dunia ikut menyaksikan proses pelantikan ini. Singkatnya jutaan dan mungkin ratusan juta mata tertuju pada satu sosok yaitu pelantikan presiden baru barack Obama.” Ini merupakan cupliklan artikel saya sebelumnya yang masih berjudul yang sama yaitu “Yes You Can”

Setelah dunia maupun negeri ini puas menyaksikan “atraksi” dari suksesnya Barack Obama menjadi orang nomor satu di AS, maka duniapun akan segera menonton atraksi serupa di negeri yang namanya Indonesia dalam arti Indonesia juga akan memilih presidennya secara demokratis, tetapi akankah calon presiden maupun presiden terpilih Indonesia di pemilihan umum 2009 ini akan dielu-elukan oleh warganya sendiri? akankan pelajar SD merayakan kemenangan RI satu nanti? apakah akan ada ribuan bahkan jutaan fans di negeri ini? akankah dunia memberi apresiasi tinggi kepada presiden terpilih nanti?

Semuanya ini hanya waktu yang akan menjawab, tetapi sejak sekarang kita sudah dapat menebak siapa-siapa saja calon yang akan bertarung nantinya, sebagian masih muka-muka lama dengan pakai gaya lama pula! Yang merasa tua dan senior dan merasa banyak pengalaman karena pernah memimpin memandang sinis calon yang muda/junior, calon junior juga menganggap calon tua sudah tidak bisa apa-apa karena mereka tidak berhasil membawa negeri ini keluar dari keterpurukan ketika mereka memimpin.

Sementara calon-calon yang bertarung nanti masing-masing sibuk membentengi diri dengan berbagi argumen dangkal, mereka lupa ataupun mungkin sudah tertutup pintu hati nuraninya bahwa sebenarnya yang harus mereka bahas dan perdebatkan adalah bagaimana memberikan solusi dan bukan sekedar argumen yang tidak akan selesai dibahas-bahas.

Di acara debat televisi para politisi kita yang akan bertarung ataupun yang berandai-andai kalau dipilih nanti mereka akan melakukan inovasi ini, inovasi itulah yang bahkan terlalu dipaksakan dan terlalu berlebihan.

Mereka bilang: kalau ada koruptor dihukum mati saja, kalau masih mencuri ikan, tenggelamkan saja kapalnya, agenda pertama saya ketika memimpin negeri ini adalah memberi sembako murah untuk rakyat, pertama dalam sejarah harga minyak turun 3 kali dan seterusnya, semuanya gombal dan berlebihan semua. Kesan yang didapat dari pernyataan-pernyataan diatas, sepertinya mereka dengan mudah menghentikan pencuri ikan di laut, menghentikan koruptor, menurunkan harga.

Kadang pernyataan politisi negeri ini di berbagai media membuat bulu kuduk merinding karena saking keras dan kritisnya pernyataan mereka, tetapi kalau mereka sudah masuk ke sistem atau tujuan mereka sudah tercapai, suara-suara “sumbang” tadi nyaris tidak terdengar dan bahkan tiba-tiba berubah wujud menjadi “makhluk” yang gampang marah/ngambek kalau posisi mereka terancam atau gagal mendapatkan apa yang mereka impikan.

Ketika pemilihan umum, tiba-tiba saja mereka jadi pahlawan rakyat dengan berbagai kunjungan dan ketika menang tempat usaha atau rumah-rumah warga mereka gusur dengan dalih demi ketertiban dan keamanan umum. Di Jawa Timur tepatnya di pulau Madura, para politisi lokal berusaha memperebutkan suara rakyat lewat pemilihan ulang yang curang sebelumnya dan kalau mereka sudah menang akankah mereka memperebutkan dan berbondong-bondong mendengarkan aspirasi warga yang memilih disana?

Yang tidak memilih atau golput dianggap dosa/haram, tetapi kalau pemerintah tidak memenuhi kewajibannya untuk memenuhi amanat Undang-Undang Dasar tentang alokasi 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pendidikan karena alasan kurang dana atau apapun alasannya tidak dianggap haram, tidak dianggap berdosa padahal telah melanggar amanat konstitusi kita.

Yang golput “dihujat” seperti warga negara yang tidak bertanggungjawab, yang korup disanjung-sanjung telah berbuat sesuatu untuk negeri ini, sehingga pengadilan cuma menjatuhkan hukuman ringan kepada mereka karena mungkin sudah terbawa dengan opini pengabdian tadi, warga miskin yang mencuri besi tua atau sandal tua dihukum seberat-beratnya.

Kita masih bersyukur masih ada lembaga yang independen dan “waras” yaitu Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan salah satu pasal UU Pemilu pada 23 Desember 2008. Pasal yang dibatalkan yakni pasal 214 huruf a, b, c, d, e Undang-undang (UU) nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang mengatur soal sistem nomor urut dan menggantinya dengan suara terbanyak. Semoga memilih kucing dalam karung tidak terjadi lagi, semoga!!



Artikel terkait:

  • Selamat Bercontreng Ria!Selamat Bercontreng Ria! * Ribuan bahkan jutaan penduduk "dipaksa" untuk golput Hari ini seluruh negeri berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya sebagai warga […]
  • Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek?Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek? Semua orang tahu DPR itu merupakan lembaga tinggi negara yang mewakili kepentingan rakyat banyak, namanya saja sudah Dewan Perwakilan Rakyat / DPR. Tetapi dalam prakteknya, tindakan dan […]
  • Yes You Can!Yes You Can! Nih posting baru, baru posting nih...... Tanpa terasa sudah tanggal 24 Januari 2009 yang berarti tinggal beberapa hari lagi bulan Januari ini akan berakhir, padahal perasaan baru kemarin […]
  • Congratulations Barack Obama ..!!Congratulations Barack Obama ..!! Selamat! selamat! kata-kata itulah yang sering keluar dari mulut jutaan umat manusia di seluruh dunia beberapa hari terakhir ini menyusul menangnya Barack Obama menjadi presiden AS ke 44 […]

One Comment

  1. lola says:

    interesting!

    @ Lola : Thanks 😛

Comments are now closed for this article.