Prita Mulyasari Terjerat UU ITE, Kebebasan Berpendapat di Internet Terancam

Beberapa hari terakhir ini nama Prita Mulyasari tiba-tiba saja ramai dibahas di berbagai media baik cetak maupun elektronik terlebih-lebih di dunia maya, ibu dua anak ini yang sekedar curhat ke teman-temannya lewat e-mail yang menceritakan perlakuan salah satu rumah sakit terhadapnya justru membuat dia terjerat dengan Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) nomor 11 Tahun 2008 yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar.

Beberapa pasal dalam UU ITE yang bisa menjerat seseorang yang menulis sesuatu yang dianggap merugikan atau mencemarkan nama baik diantaranya pada Bab VII (perbuatan yang dilarang) pasal 27 ayat 1-4 dan pasal 28 ayat 1-2.

Salah satu yang dikenakan kepada ibu Prita Mulyasari: Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang berbunyi: “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”

Yang perlu dicatat dalam UU ITE saya tidak menemukan salah satu ayat yang secara khusus menjelaskan pencemaran nama baik terhadap suatu lembaga apalagi badan usaha hanya ada pencemaran nama baik terhadap perorangan dan suatu kelompok. Rumah sakit termasuk dalam kategori kelompok?? tentunya badan usaha kan? Jadi seharusnya pasal Pasal 27 ayat 3 UU ITE diabaikan dan tidak bisa menjerat seseorang yang bahkan telah dinilai mencemarkan nama baik suatu badan usaha.

Ancaman Bersama

Saya tidak mengenal ibu Prita Mulyasari tetapi saya merasa ini merupakan ancaman bersama, ancaman buat saya, buat anda, buat keluarga anda dan buat siapapun yang memanfaatkan internet sebagai media interaksi sosial di tanah air.

Ini suatu tindakan yang keterlaluan dan tidak perlu terjadi seharusnya konsumen dan warga negara dijamin kebebasannya dalam mengungkapkan pendapat, kritik, maupun informasi yang memang perlu publik ketahui bukan sebaliknya mengbungkam kritikan bahkan informasi dari masyarakat.

Ancaman Buat Blogger

Saya sebagai blogger yang aktif menulis sesuatu apa saja yang saya lihat dan alami terus terang merasa terancam dan gelisah dengan tindakan aparat yang menangkap saudara Prita Mulyasari, ini merupakan ancaman bersama dan terutama rekan-rekan blogger tanah air, mungkin sudah saatnya meng-review Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) agar menghormati prinsip kebebasan berpendapat terutama kebebasan berpendapat di internet.

Memang Undang-undang ini sewaktu dibuat beberapa waktu yang lalu banyak mengundang pro dan kontra dan kali ini undang-undang tersebut sudah memakan “korban”, anda, saudara anda, teman anda, keluarga anda ataukah saya yang akan jadi “korban” berikutnya?? mudah-mudahan tidak!

Mudah-mudahan masih ada aparat yang “waras” yang masih menjunjung tinggi prinsip kebebasan berpendapat, tentunya pendapat yang santun, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenaran datanya.

Lampiran:
Download Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)

Keterangan: photo diambil dari www.detik.com



Artikel terkait:

  • Monster Itu: Pasal Pencemaran Nama BaikMonster Itu: Pasal Pencemaran Nama Baik Menarik juga ketika saya membaca Koran Tempo dan beberapa media lain yang intinya memberitakan bahwa pasal pencemaran nama baik sudah saatnya dihapus. Bahkan Wakil Ketua MA Bidang […]
  • RPP Konten Multimedia, Peraturan ReaktifRPP Konten Multimedia, Peraturan Reaktif Rancangan Peraturan Menteri tentang konten multimedia menurut saya merupakan rancangan peraturan reaktif atas "kegagalan" pemerintah dalam memerangi atau membendung aksi sebagian tulisan […]
  • Beriklan di Blog Anda, Mau?Beriklan di Blog Anda, Mau? Saya mau beriklan di blog anda, atau kami mau ajak saudara untuk memanfaatkan media (blog) yang anda kelola untuk mempromosikan produk/jasa kami, mau? Pastinya respon kita beragam dalam […]
  • PestaBlogger 2008: Selamat Datang di Republik BlogPestaBlogger 2008: Selamat Datang di Republik Blog Tanpa terasa PestaBlogger 2008 yang kita nanti-nantikan telah berakhir dengan kenangan manis: ketemu dengan blogger lain yang hanya kenal lewat dunia maya. Terus terang sebelumnya saya […]

4 Comments

  1. blogwalking mas. kunjungi blogku juga ya

  2. redaksi says:

    MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT

    Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…

    itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

    ………………………………………………………………………………………….

    Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.

    Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.

    Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.

    Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.

  3. Togar Lubis says:

    Kasus yang menimpa Mbak Prita merupakan bukti nyata bahwa penegak hukum kita masih suka mempermainkan hukum atau menerapkan pasal-pasal hukum yang keliru untuk kepentingan pribadi atau kelompok di negeri ini. Disisi lain kasus tersebut merupakan gambaran bahwa “sejumlah orang” masih senang “membungkam” keluhan, kritik dan apa yang dirasakan oleh rakyat. Jika hal ini dibiarkan maka kebebasan mengeluarkan pendapat yang dilindungi oleh UU akan segera “mati” di negeri ini. Tetap semangat Mbak Prita, doa kami bersamamu. salam, Masyarakat Marginal Sumatera Utara.

  4. Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien
    oleh RS OMNI International Alam Sutera

    Kasihan saja tidak cukup. Apakah yang sudah Anda lakukan untuk menggalang anti kriminalisasi pasien oleh RS OMNI International Alam Sutera ? Atau Anda hanya membaca dan menonton kasus itu di Media Cetak dan Televisi ?
    Jika Anda peduli, namun tidak tahu caranya mengekspresikan kepedulian Anda, berikut ini adalah langkah praktis untuk menyampaikan aspirasi Anda :
    1. Kirim Email kekecewaan dan kutukan Anda, kepada :
    info@omnihealthcare.co.id dan info@omni-hospitals.com (RS OMNI International Alam Sutera)
    mph@cbn.net.id (Pengacara RS OMNI International Alam Sutera dari Risma Situmorang, Heribertus & Partners).
    2. Anda juga bisa menyampaikan kekecewaan dan kutukan Anda secara langsung kepada nomor telpon : 021-53128555 (hunting). Jangan hanya berbicara sama operatornya, tetapi kalau bisa dengan para manajemen RS OMNI International Alam Sutera, yaitu Sukendro (Direktur Utama), Dina (Direktur), atau Anda juga bisa menghubungi semua nama petugas yang disebutkan dalam surat keluhan Prita Mulyasari.
    3. Cara lainnya adalah dengan mengirimkan fax dukungan yang sama ke nomor : 021- 53128666.
    Marilah kita semua melakukan langkah nyata sebagai rasa solidaritas dan tangggungjawab sosial personal. Agar kasus kriminalisasi terhadap pasien yang dilakukan oleh RS Internasional merupakan yang pertama dan yang terakhir. Lakukan apa yang bisa dilakukan, sekarang juga. Terima kasih atas kepedulian Anda.
    Wassalam,

    BARATA NAGARIA
    Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien Indonesia (SAKPI)
    Web, http://anti-kriminal.blogspot.com
    Email : barata.nagaria@yahoo.co.id

Comments are now closed for this article.