Permen & Uang Receh

Seratus rupiah, lima ratus rupiah, seribu rupiah bahkan lima ribu rupiah tidak membuat bapak, ibu, tante, kakak dan abang jatuh miskin. Demikian pantun sumbang yang keluar dan mengalir begitu saja dari mulut “seniman” jalanan ibukota yang mengaku baru saja keluar dari penjara di depan penumpang angkutan umum (biasanya bus PATAS, metromini). Kejadian ini hampir tiap hari dialami oleh pengguna jasa kendaraan umum, nah bagaimana kalau kejadian serupa kita alami ketika berbelanja dengan modus yang berbeda tentunya?

Pernahkah berbelanja di mall, pasar swalayan, toko ataupun di pusat perbelanjaan modern dimana ketika membayar di kasir kita “ditodong” oleh satu atau beberapa permen bahkan kotak amal atau sumbangan? dan bukan sebaliknya kita mendapatkan uang kembalian?

Respon kita pasti diam saja sambil mengambil permen itu ataupun mengangguk saja dengan tawaran sikasir, mungkin kita berpikir berapa sih nilai uang itu ataupun berpikir ngapain sih repot-repot ambil recehen itu, toh nilainya gak seberapa. Atau kita masih ingat kata-kata “seniman” jalanan tadi? ya kita tidak akan jatuh miskin! *_*

Biasanya sambil menyodorkan permen, sikasir memberi alasan kalau mereka tidak punya uang recehan. Tapi anehnya kejadian yang sama terus-menerus terjadi dan sepertinya tanpa niat yang baik dari pihak manajemen mereka untuk menyediakan uang receh.

Sebenarnya solusinya sederhana saja, kalau mereka gak mau atau ogah menyediakan uang receh mendingan harga-harga barang yang mereka jual didesain agar harganya uang pas semua. Kalau kejadian yang sama berulang-ulang terus, kita juga sebagai konsumen lama-kelamaan merasa tidak nyaman.

Saya teringat dengan dosen saya dulu yang ketika mengajar suatu saat “curhat” tentang kejadian yang beliau alami ketika berbelanja dimana beliau langsung disodorkan permen oleh sikasir dan tanpa diduga oleh sikasir, sang dosen langsung marah-marah. Saya waktu itu berpikir tindakan dosen saya ini tidak perlu dan berlebihan. Masakan dia tega memarahi kasir itu hanya gara-gara uang recehan. Argumen sang dosen waktu itu adalah uang sebagai alat pembayaran dan bukannya permen sambil mengancam beliau berkata akan melaporkan pihak manajemen ke bank sentral (BI).

Akhir-akhir ini juga saya sering mengalami kejadian yang sama di minimarket dekat kos saya di kawasan Pulomas. Nama minimarketnya gak usah dikasih tahulah, nanti saya dituntut dengan pasal bodoh itu lagi, anda tahu sendiri pasal bodoh itu kan? ya pasal pencemaran nama baik!

Karena minimarket ini buka 24 jam dan cocok dengan karakteristik saya yang gak teratur tidur, bangun dan berbelanjanya maka kadang tengah malam saya belanja di tempat itu dan celakanya mereka tidak pernah punya uang recehan untuk mengembalikan uang kembalian saya, sebagai penggantinya disodorkanlah permen sebagai “alat pembayaran” baru mereka, canggih kan?

Maksud saya canggih disini adalah pihak manajemen minimarket itu gak mau repot untuk menyediakan uang receh, mereka cukup mengambil jalan pintas saja dengan cara menyediakan permen dan atau menambah 1 kotak dengan embel-embel kotak amal di depan kasir. Lalu terpecahkan sudah 1 masalah buat mereka dalam meyediakan uang receh.

Nah dengan entengnya, sikasir menawarkan saya, pak kembaliannya disumbangkan ke kotak amal ya? iya deh saya bilang. Kejadian sumbang-menyumbang ke kotak amal itu terus berlanjut, tiap belanja menyumbang lagi, sumbang trus…?? pantang mundur ha ha seperti iklan aja….

Tapi ada satu yang aneh saudara-saudara sekalian, uang sumbangan saya tadi tidak langsung dimasukkan ke kotak amal itu sepeti yang ditawarkan sikasir. Harusnya uang hasil sumbangan saya langsung dimasukkan ke kotak amal itu, tapi karena mereka belum punya uang receh ya tetap saja uang saya gak jelas statusnya dan lebih parah dari tawaran permen.

Kalau tawaran permen saya bisa melihat, meraba dan memakan (3 M he he he) tuh permen tapi menyumbang di kotak amal tadi? ya saya gak bisa melihat pertanggungjawaban mereka, apakah nanti mereka menghitung semua uang sumbangan pelanggan lalu memasukkannya ke kotak sumbangan itu lalu hasil sumbangan itu disalurkan sesuai dengan peruntukannya atau tidak.

Sampai suatu saat saya datang lagi untuk belanja dan dan kasir menawarkan lagi, pak uang kembalian yang Rp. 800 disumbangkan ke kotak amal ya? saya bilang tidak!! ogah! gak mau menyumbang titik….. bukannya saya gak mau menyumbang, tapi masa tiap belanja disini langsung ditodong dengan kotak amal dan permen?

saya mau uang kembalian saya. Saya langsung marah-marah dengan kasir itu, kalian jualan serius gak sih? yang profesioanl donk…. kasir yang disebelahnya ikut nimbrung dan membela, pak uang receh kami lagi habis. Lagi habis? gak deh, kayaknya gak habis, kalian tiap saat begini trus kok, kalau gak menawarkan permen langsung menawarkan kotak amal. Kotak amal apaan ini? cuma kedok tau, kalian gak mau repot menyediakn uang receh sih.

Jadi ingat kata-kata seniman jalanan tadi yang ngaku baru keluar dari penjara: seratus rupiah, lima ratus rupiah, seribu rupiah bahkan lima ribu rupiah tidak membuat bapak, ibu, tante, kakak dan abang jatuh miskin, mungkin kata-kata ini yang membuat manajemen minimarket itu terinspirasi dan mau melakukan hal yang sama, cuape deh… jadi emosi jiwa nih….



Artikel terkait:

  • Ada Photo Gallery di Mendrofa.ComAda Photo Gallery di Mendrofa.Com Ketika diundang untuk menghadiri acara komunitas pecinta fotografi di daerah Kemang beberapa waktu yang lalu, saya jadi terinspirasi untuk berbagi dengan menggunakan media foto. Sayang […]
  • Kerak TelorKerak Telor Ketika hari minggu kemarin (13/06/2010) berkunjung Jakarta Fair 2010, seperti biasa di sepanjang jalan sekitar komplek Jakarta Fair dipenuhi pedagang kerak telor, makanan khas Jakarta […]
  • Pembukaan Turnamen GPKNPembukaan Turnamen GPKN Akhirnya Turnamen Futsal GPKN Cup 2015 resmi dimulai pada hari Minggu (04/10/2015). Awalnya saya beserta beberapa Ketua DPP GPKN meragukan jalannya turnamen, salah satu event yang […]
  • Mari Dukung Gerakan PemudaMari Dukung Gerakan Pemuda Pemuda-pemudi Ono Niha yang saya banggakan, sebagai organisasi kepemudaan yang pada tanggal 28 Oktober 2015 akan memasuki usia 3 tahun, Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (GPKN) dirasa semakin […]

One Comment

  1. hahhahhaa……….muantafff ..bung,,

    itu terobosan baru, si bung emang perintis sejati…sudah seharusnya digituin, mereke pikir gampang apa nyari recehan jaman sekarang ini, apalagi posisi kita “pengacara” gini, iya ga bung..hehe

    kalau menurut saya sih bung, sebaiknya bung cantumkan saja nana minimarket itu, kan ntar ada kita para facebooker ato blogger yang bakalan bantuin bung, untuk “menyelamatkan” bung dari pasal pembodohan itu. Toh bung juga ga salah seutuhnya kan, karena bung menuntut hak yang sebenarnya kok. jadi ga usah takut bung, prita juga bisa bebas apalagi si bung kris…hehhehe..”Mainkan” Bung….^_^
    Gb us.

Comments are now closed for this article.