Terima kasih Sudah Merokok

Terima kasih sudah merokok, judul yang aneh ya. Menyuruh orang “membunuh” secara pelan-pelan diri sendiri dan menguras isi kantong tetapi kenapa berterima kasih? Ya, harus berterima kasih. Produsen rokok untung, petani tembakau untung, negara untung dengan cukai rokoknya yang mahal tetapi masih murah dibanding dengan negara-negara lain. Mereka-mereka inilah yang berterima kasih. Perputaran roda ekonomi dengan industri rokoknya memang sangat pesat, sepesat dampak negatifnya juga bahkan kalau dipikir-pikir, kerugian yang diakibatkan rokok tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat tadi. Tetapi kenapa masih banyak yang merokok justru dikalangan warga yang ekonominya pas-pasan? aneh juga.

Saya secara pribadi berterima kasih juga karena telah merokok! Karena dengan merokok, saya bisa menulis artikel ini dan bisa mengerti kenapa “harus” merokok dan kenapa harus berhenti merokok segera atau kapan “idealnya” merokok dan kapan tidak merokok. Saya dulunya sebagai perokok aktif juga, tetapi sekarang saya sudah bosan merokok karena bosan merokok maka saya berkomitmen untuk berhenti merokok. Ya, sudah berhenti merokok lebih 2 tahun yang lalu. Dulu ketika berhenti, banyak teman-teman yang tertawa mendengarnya. Menurut mereka itu lucu dan mustahil terjadi tetapi buat saya itu tidak lucu dan gampang untuk berhenti. Dengan kesadaran sendiri dan sedikit kemauan, saya bisa berhenti merokok. Tidak ada tips, tidak ada yang menekan untuk berhenti dan bahkan saya tidak tersiksa karena disebabkan keputusan berhenti yang tiba-tiba itu. Semuanya berjalan lancar, tanpa hambatan. Lalu apa yang membuat saya berhasil berhenti? Alasannya: BOSAN!

Sejarah rokok dalam hidup saya sendiri sebanarnya cukup panjang dan mempunyai “3 fase” merokok yaitu pertama kali mengenal rokok ketika kelas 6 Sekolah Dasar (SD), waktu itu cuma merokok 1 batang tetapi dengan jantung berdebar berjuta rasa antara takut dan nikmat. Setelah lulus dan masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), dari kelas 1 sampai 2 saya tidak merokok dan waktu kelas 3 saya merokok selama 1 tahun. Ketika lulus SMP dan masuk SMK, saya berhenti merokok lagi. Ketika kelas 3 SMK, saya telah menjelma jadi perokok berat! Wajib hukumnya untuk menyedot rokok minimal 1 bungkus setiap hari. Dalam fase ini, saya mempunyai “motto”: boleh tidak makan, asal merokok! Maklum waktu itu saya ngekos, uang kos dan uang untuk membeli keperluan sehari-hari sebagian dipakai untuk beli barang “haram” itu.

Ketika tamat SMK dan merantau untuk kuliah ke Jakarta, ternyata kebiasaan merokok ini tetap berjalan bahkan semakin parah, berinternet 2 atau 3 jam saja sudah menghabiskan 1 bungkus rokok. Ketika kuliah, selain merokok dibarengi dengan minum-minuman beralkohol, nongkrongnya di warung depan kampus yang tidak jauh dari pintu gerbang. Setiap cewek-cewek yang lewat disitu melihat kami dengan sinis (belakangan baru sadar) tetapi saya menganggapnya keren, cool! Tidak sedikit kalau pulang kuliah saya dan beberapa teman melalui stasiun Megaria – Cikini dan bioskop Megaria di Jakarta Pusat yang legendaris itu dengan berjalan sempoyongan, lucu tetapi mungkin lebih cocok konyol.

Suatu saat sepeti biasa sambil menunggu dosen saya dan beberapa teman merokok di kelas yang ber-AC dan teman-teman lainnya yang tidak merokok menegur kami, teman saya yang lain mengalah keluar kelas walau dengan berat hati tetapi saya bersikeras untuk tidak meninggalkan kelas itu, sambil menghirup rokoknya dalam-dalam saya lalu balas mengecam mereka, kalau kalian tidak nyaman atau tidak senang kalian keluar ruangan. Jangan menyuruh saya keluar, hak saya untuk untuk santai dan merokok. Sayapun tidak menggubris protes mereka dan akhirnya teman-teman saya mengalah. Tinggallah sendirian di kelas sambil menikmati dan berpikir kenapa teman-teman saya pada protes? sampai mereka keluar kelas, padahal saya tahu mereka itu terpaksa karena sebenarnya mereka masih ingin berdiskusi dan menyelesaikan tugas-tugas mereka. Saya juga berpikir, dimana-mana orang-orang yang tidak merokok menghindari saya dan kalau sudah mulai pegang korek api dan rokok tiba-tiba tanpa diusir mereka sudah kabur.

Suatu saat saya berdebat sengit dengan seorang senior saya yang tidak merokok, menurut dia merokok itu dosa istilah sekarang haram. Sontak saya protes, mana ayat yang mendukung dalam kitab yang melarang atau mengharamkan rokok itu? teman saya lalu berkata, memang tidak ada tapi bukankah rokok itu merusak kesehatan yang merusak diri sendiri dan di Kitab agama manapun merusak kesehatan diri sendiri tidak boleh. Tapi jawaban saya sederhana, itu tidak relevan. Pokoknya merokok walaupun bisa merusak kesehatan tetapi bukan dosa.

Lalu lama-kelamaan, saya berpikir kenapa tidak berhenti merokok saja. Sudah jelas merokok itu banyak sisi negatifnya, kenapa saya harus bertahan untuk merokok? Terlepas apakah merokok itu dosa, haram atau bahkan sebaliknya.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk berhenti merokok, dan memotivasi diri-sendiri dengan berkata: saya bosan merokok! Kalau ketemu dengan teman-teman di kampus atau di kos, saya bilang maaf saya sudah berhenti merokok, saya bosan merokok. Kalau sudah bosan merokok apa yang anda lakukan? Teman saya menjawab: ya berhenti! Saya jawab benar, jadi jangan tawari saya rokok lagi.

Merokok Itu Keren

Dari dulu sampai sekarang, konon alasan orang merokok itu karena ingin tampil keren sambil menghindari sebutan bencong (banci) kalau dirinya tidak merokok dan kesenangan yang didapat dari merokok adalah bonus yang didapat dikemudian hari setelah terikat dengan rokok itu sendiri. Faktanya banyak bencong yang merokok, kalau masalah keren? itu relatif.

Biasanya orang-orang yang berhenti merokok akan mengalami tekanan dari diri-sendiri maupun dari luar misalnya dari teman-temannya maupun teman barunya ketika bertemu di suatu pesta misalnya. Seakan-akan orang lain berkata, anda payah, anda tidak punya solidaritas bahkan anda banci karena tidak merokok (padahal banyak banci yang merokok!) Salah satu alasan perokok pemula untuk nekat mencoba merokok karena alasan terakhir ini, menghindari cap banci dari teman-temannya oleh karena itu dia akan memulai merokok dan merasa itu keren. Pertanyaan saya, dengan banyak bencong (bahkan rata-rata merokok) apakah tidak sebaliknya perokok itu dicap sebagai banci? he he he

Mungkin bagi anda yang masih aktif merokok dan berkeinginan berhenti mempertimbangkan kata-kata terakhir ini untuk memotivasi diri-sendiri biar bisa berhenti merokok. Ucapkan berkali-kali: saya bosan merokok, saya bukan banci!! Tentunya semua hal adalah merupakan pilihan buat kita, anda punya pilihan untuk tetap merokok atau untuk berhenti merokok, itu adalah pilihan hidup anda, hak prerogatif anda.

Pesan moral: berhentilah merokok, sebelum rokok itu membunuh anda!

If you liked this post, say thanks by sharing it 🙂

Buy and Sell text links



Artikel terkait:

  • Koran Gratis, Selamat Datang!Koran Gratis, Selamat Datang! Selama ini kita sering mendapatkan tabloid maupun majalah gratis. Namanya juga gratisan otomatis media-media semacam ini mengandalkan iklan sebagai sumber pendapatan mereka, konsekuensinya […]
  • PestaBlogger 2008: Selamat Datang di Republik BlogPestaBlogger 2008: Selamat Datang di Republik Blog Tanpa terasa PestaBlogger 2008 yang kita nanti-nantikan telah berakhir dengan kenangan manis: ketemu dengan blogger lain yang hanya kenal lewat dunia maya. Terus terang sebelumnya saya […]
  • Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek?Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek? Semua orang tahu DPR itu merupakan lembaga tinggi negara yang mewakili kepentingan rakyat banyak, namanya saja sudah Dewan Perwakilan Rakyat / DPR. Tetapi dalam prakteknya, tindakan dan […]
  • Congratulations Barack Obama ..!!Congratulations Barack Obama ..!! Selamat! selamat! kata-kata itulah yang sering keluar dari mulut jutaan umat manusia di seluruh dunia beberapa hari terakhir ini menyusul menangnya Barack Obama menjadi presiden AS ke 44 […]

10 Comments

  1. Dewa Bantal says:

    Aku merokok seringnya kalau sedang bengong dimobil entah nunggu teman ataupun perjalanan jauh. Kalau dirumah atau bekerja jarang sekali merokoknya 🙂

    Ada kan film Thank You For Smoking, beberapa tahun yang lalu sih. Bagus juga ceritanya hehehe.

  2. Nasir says:

    Salah satu alasan yang menarik untuk berhenti merokok: BOSAN.
    Tapi memang sih, kalo bisa diambil hikmahnya, untung abang pernah merokok, ternyata berasa kan ga nyamannya kalo dikenai asap rokok.
    Selamat bang udah berhenti merokok, semoga bisa bertahan…

  3. Mendrofa says:

    Repot juga kalau hampir semua temannya perokok semua, lha kapan nemu pasangannya kalau gitu he he he. Tapi tenang suatu saat akan menemukan “mutiara terpendam” maksudnya pasangan yang bebas asap rokok 🙂

    Benar duitnya dialokasikan buat jalan-jalan atau buat dana “talangan” untuk menikah kelak ha ha ha ha….. … Maklum, di daerah gw di Nias sono, butuh biaya puluhan juta untuk menikah hi hi hi hi 🙂

  4. isnuansa says:

    Di rumah saya semua laki-laki nggak ada yang merokok. Jadi agak sulit buat saya menemukan pasangan, karena hampir semua yang saya kenal merokok, hahaha.

    Ngeri kali Bang ceritamu soal merokok. Kelas 6 SD sudah molai. Parah banget ketika digabung dengan alkohol. Padahal kan nggak ada yang enak itu!

    Mending duitnya buat jalan-jalan… 😉

  5. dimasrlp says:

    Logika banyak banci yang merokok benar2 argumen yang brilian bro…hahahaha. Bisa dipake nih kalo ada yang songong bilang nggak ngerokok = bencong 😀

  6. Mendrofa says:

    Salah satu alasan yang bagus untuk berhenti merokok, salam kenal juga 🙂

  7. dhodie says:

    Saya pernah mencoba merokok, dan lumayan sebagai pelarian saat stress. Tapi ketika saya tanyakan ke beberapa temen merokok, tidak pernah ada yang bisa meyakinkan saya mengapa saya mesti merokok.
    Salam kenal ^^

Comments are now closed for this article.

Get Adobe Flash player