Sampai Ketemu di Java Jazz 2011

Akhirnya perhelatan akbar Jakarta International Java Jazz Festival berakhir pada hari Minggu kemarin (7/3/2010). Selama 3 hari penggemar musik Jazz di tanah air dimanjakan oleh musisi kelas dunia, festival Jazz terbesar yang pernah ada sejagat dengan 20 panggung dan ribuan artis dalam dan luar negeri. Jakarta International Java Jazz Festival 2010 bahkan diganjar penghargaan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai festival Jazz terbesar dunia, luar biasa! Di tengah keterpurukan negeri ini, seperti rekor negara terkorup di Asia Pasifik yang baru saja dirilis, negara kita juga “mengimbanginya” dengan rekor baru dalam dunia musik.

Tua, muda bahkan banyak pelajar juga ikut menikmati setiap alunan musik yang dibawakan. Warga/turis asing, pejabat ataupun artis-artis tanah air juga “berkeliaran” menonton festival ini, teman-teman blogger juga ternyata banyak menonton acara ini. Singkatnya semua datang dengan segala perjuangan (baca bolak-balik stage dengan kaki pegal) hanya untuk satu tujuan menikmati alunan musik Jazz.

Ada beberapa kejadian yang menarik dan unik menurut saya yaitu ketika lagu terakhir yang dibawakan artis yang manggung berakhir dan menutupnya dengan ucapan terima kasih, para penonton sepertinya enggan meninggalkan arena konser, padahal masih ada belasan panggung lain yang sedang mengadakan pertunjukan serupa, justru sebagian meneriakkan “more, more……”. Saya yakin para penonton banyak yang belum terlalu kenal dengan artis yang manggung bahkan bisa jadi baru mendengar namanya ketika perhelatan Java Jazz ini (seperti saya misalnya) tetapi sepertinya para penonton sudah mempunyai keterikatan seakan-akan sudah sangat familiar. Ini mengindikasikan bahwa musik Jazz telah menghipnotis penonton, bukan semata-mata karena menjadi penggemar (ngefans) dengan artis yang bersangkutan, para penonton bukan berbasiskan fans.

Saya sendiri masuk ke arena festival sekitar jam 4 sore dan baru meninggalkannya jam 00.35 WIB (7 jam lebih), menikmati musik Jazz 7 jam lebih dalam sehari merupakan rekor terlama buat saya, lebih-lebih dalam menikmati musik. Kali ini saya pergi nonton sendirian, saya menikmati kesendirian ini untuk benar-benar menonton Jazz. Beberapa kali membaca update-an twitternya mbak Chika yang sedang nonton juga dan kami saling balas Twit deh dan akhirnya tidak bisa ketemuan juga padahal saya mau sekalian kopdar juga dengan mbak yang satu ini, memang pernah ketemuan di Pesta Blogger juga sih.

Terus terang, saya baru mengenal musik Jazz beberapa tahun terakhir berkat adanya festival Jazz yang diselenggarakan PT. JAVA FESTIVAL PRODUCTION ini. Java Festival Production telah berperan besar memperkenalkan musik Jazz di tanah air. Tahun lalu bahkan saya masih ragu dan akhirnya memutuskan untuk tidak menonton Java Jazz Festival karena takut perhelatannya mengecewakan saya, tetapi akhirnya tahun ini saya memutuskan untuk menonton dan ternyata luar biasa nikmatnya dan bahkan saya telah menetapkan festival ini ke dalam agenda tahunan saya yang wajib untuk didatangi, tentunya kalau perhelatan musik Jazz ini konsisten diselenggarakan.

Ketika waktu mulai masuk ke jam 00 WIB dini hari, saya masih menonton konser Gugun Blues Shelter di panggung terbuka, penampilan mereka keren banget walau aliran musiknya tidak terlalu Jazz bahkan mungkin bukan? kurang tau juga, mungkin sesuai namanya musik mereka beraliran Blues. Karena penampilan mereka keren, maka saya memutuskan untuk menontonnya sampai berakhir, lagi-lagi penonton minta nambah dan dipenuhi. Oh ya, Gugun Blues Shelter adalah grup musik lokal yang sudah dikenal luas di dunia Internasional ternyata, seorang personil mereka adalah bule yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Gugun Blues Shelter akan manggung di Singapore dalam waktu dekat bareng musisi kaliber dunia tentunya.

Setelah puas menonton Gugun Blues Shelter, saya balik lagi ke gedung utama dan naik ke lantai 6 sekitar jam 00.15 WIB, Nita Aartsen-Latin Jazz Mania sudah menunggu disana. Kali ini yang menonton sedikit, tempatnya juga tidak luas. Penampilan Nita Aartsen-Latin Jazz termasuk pertunjukan terakhir selain Arturo O’Farril. Walau kaki sudah pegal dan sudah ngantuk para penonton termasuk saya (mungkinkah ini barisan penikmat Jazz sejati? he he he) dengan setia menikmati alunan Jazz yang mereka bawakan, pertunjukan ini suasananya seperti nonton pagelaran wayang saja, nonton semalam suntuk. Sampai ketemu di Java Jazz Festival 2011!



Artikel terkait:

  • Jakarta, Kota JazzJakarta, Kota Jazz Jakarta, ibukota negara Republik Indonesia boleh berbangga mempunyai festival jazz tahunan bertaraf internasional yang diselenggarakan setiap bulan Maret yaitu Axis Jakarta International […]
  • Terima Kasih Java JazzTerima Kasih Java Jazz Sudah 3 tahun belakangan saya gandrungi musik jazz, aliran musik yang dulunya asing di telinga dan beranggapan bahwa musik jazz hanya cocok untuk kalangan tertentu saja, orang tua. […]
  • Java Jazz Festival Photo. Tompi dan Santana Keren!Java Jazz Festival Photo. Tompi dan Santana Keren! Akhirnya pergelaran Axis Jakarta Java Jazz Festival 2011 dimulai lagi pada hari Jum`at 4 Maret 2011. Di acara pembukaan ini, artis luar negeri yang menyedot banyak pengunjung adalah […]
  • Axis Jakarta Java Jazz Festival 2011: Harmony Under One NationAxis Jakarta Java Jazz Festival 2011: Harmony Under One Nation Akhirnya perhelatan musik jazz terbesar di tanah air dan bahkan salah satu yang terbesar di dunia diselenggarakan lagi, Axis Jakarta International Java Jazz Festival yang juga sering […]

Comments are closed.