Priok Berdarah, Klimaks "Dosa-dosa" Pol PP

Tanpa bermaksud menyinggung perasaan keluarga korban tewas dari Pihak Polisi Pamong Praja (Pol PP) yang masih berduka, kejadian tragis yang mengakibatkan kerugian materi bahkan korban jiwa di pihak pol PP maupun warga memang sudah selayaknya mereka (Pol PP) mendapatkan “ganjaran” itu.

Publik sudah tahu “track record” Pol PP dalam menjalankan setiap tugasnya rata-rata berakhir dengan bentrokan dengan warga, sepertinya tidak afdol kalau setiap penggusuran tidak diakhiri dengan “ritual” bentrokan dengan warga. Pihak aparat kepolisian yang kadang turut serta membantu aparat Pol PP dalam melakukan penertiban tidak jarang berhadap-hadapan dengan Pol PP sendiri karena anggota Pol PP terus-menerus memukuli warga yang tidak berdaya sedangkan pihak aparat polisi berusaha melereai atau mengamankan warga yang sedang jadi bulan-bulanan aparat Pol PP.

Seperti kejadian kemarin (14/04/2010), kalau saja salah seorang warga yang sudah terpojok dan jadi bulan-bulanan aparat Pol PP tidak segera diamankan polisi maka mungkin warga itu akan babak belur. Menariknya walau warga tersebut sudah dibela/diselamatkan beberapa anggota polisi yang datang memasang badan, anggota Pol PP yang sudah beringas berusaha menerobos untuk memukuli warga tersebut di depan polisi. Polisi lalu beteriak agar anggota PP tersebut menjauh.

Semoga dengan kejadian Priok berdarah yang saya anggap sebagai klimaks dari “dosa-dosa” Polisi Pamong Praja selama ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi pengambil kebijakan seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, anggota DPR/DPRD maupun masyarakat untuk “mereview” apakah layak mempertahankan keberadaan Polisi Pamong Praja atau membubarkan saja lembaga itu dan atau membenahi dulu organisasi Pol PP sebelum melakukan “aksi-aksi” berikutnya agar mereka semakin profesional, sesuai harapan masyarakat dan dalam setiap aksinya di lapangan tentunya manusiawi dan mengedepankan pendekatan musyawarah dengan warga dan bukan sebaliknya langsung memakai cara-cara yang dipraktekkan selama ini.



Artikel terkait:

  • “Tola Mate Moroi Na Aila”“Tola Mate Moroi Na Aila” Bangsa Jepang mengenal harakiri berupa tindakan bunuh diri untuk menunjukkan keberanian, kesetiaan dan harga diri. Ono Niha (suku Nias) seperti tidak mau kalah saja maka populerlah salah […]
  • Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek?Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek? Semua orang tahu DPR itu merupakan lembaga tinggi negara yang mewakili kepentingan rakyat banyak, namanya saja sudah Dewan Perwakilan Rakyat / DPR. Tetapi dalam prakteknya, tindakan dan […]
  • Segera Sahkan RUU DesaSegera Sahkan RUU Desa Perayaan Hut Kemerdekaan Republik ke-68, pada tanggal 17 Agustus 2013 telah kita lewati. Kita baru pula menyaksikan eksodus jutaan warga dalam ritual tahunan yang bernama mudik. Sejenak, […]
  • Koran Gratis, Selamat Datang!Koran Gratis, Selamat Datang! Selama ini kita sering mendapatkan tabloid maupun majalah gratis. Namanya juga gratisan otomatis media-media semacam ini mengandalkan iklan sebagai sumber pendapatan mereka, konsekuensinya […]

5 Comments

  1. Hi there i do absolutely enjoy your original blog, I woudl enjoy if i could write a site review on your awesome work in my small Cooking Website http://publisher-tricks.us would you allow me to? Sincerely

  2. ngeriii..ngeriiii… 🙂

  3. Edius Mendrofa says:

    Untuk Satpol PP,ingat negara indonesia adalah negara hukum, untuk itu tidak berlaku kekerasan dan main hakim sendiri,okey……………

  4. Edius Mendrofa says:

    Kalo menurut gw sich sebaikknya pol pp tersebut di bubarkan ajah dulu, kalo ga di non aktifkan dulu sebelum ada pembenahan di instasi nya karena selama ini yang berbaur dan ada sangkut pautnya dengan satpol pp pasti ada kerusuhan dan semena- mena terhadap rakyat,kan negara indonesia punya hukum knp satpol pp bertindak seenaknya ajah………?

Trackbacks for this post

  1. […] This post was mentioned on Twitter by kris J. Mendröfa, kris J. Mendröfa. kris J. Mendröfa said: http://www.mendrofa.com –> New post: Priok Berdarah, Klimaks "Dosa-dosa" Pol PP (http://bit.ly/daOAdh) […]

Comments are now closed for this article.