Kerak Telor

Ketika hari minggu kemarin (13/06/2010) berkunjung Jakarta Fair 2010, seperti biasa di sepanjang jalan sekitar komplek Jakarta Fair dipenuhi pedagang kerak telor, makanan khas Jakarta (Betawi) itu. Ada yang unik yang berhasil menarik perhatian saya, ternyata semua pedagang itu memakai semacam ID Card “resmi” untuk berjualan di sepanjang trotoar. ID Card itu digantung di setiap gerobak mereka, hampir dipastikan tidak ada yang belum memajangnya. Ternyata ID Card itu dikeluarkan oleh salah satu organisasi kemasyarakatan yang sudah terkenal di ibukota. Yang tidak punya ID Card “resmi” tidak boleh berjualan, nanti akan ditegur oleh petugas dari organisasi kemasyarakatan tadi. Kata ditegur disini tentunya bermakna banyak, ujung-ujungnya mungkin bisa kekerasan fisik pikir saya.

Layaknya ID Card, di ID Card itu tertera nama organisasi yang mengeluarkan beserta foto pemimpin mereka (narsis banget ya) terus disertai tanda tangan. Di belakang ID Card ada ketentuan pemakaian ID Card. Pedangang yang mangkal disini mungkin ratusan orang, dulu bisa sampai ribuan, kata salah satu pedagang. Pedagang disini biasanya pedagang musiman, hanya berdagang selama Jakarta fair berlangsung. Ini diperkuat dengan “izin” yang diberikan lewat ID Card. Bisa dibayangkan berapa perputaran ekonomi warga selama 1 bulan itu.

Apa itu kerak telor? Kerak telor adalah salah satu makanan khas Jakarta (Betawi) yang cukup unik yang terbuat dari bahan-bahan beras ketan putih, telur ayam, ebi (udang kering yang diasinkan) yang disangrai kering ditambah bawang merah goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabai merah, kencur, jahe, merica butiran, garam dan gula pasir. Untuk masalah rasa, saya tidak bisa menjelaskannya dan membandingkannya. Maklum saya tidak suka dengan yang namanya wisata kuliner. Yang jelas kerak telor telah menjadi salah satu brand Jakarta, itupun kalau Pemerintah Daerah Jakarta punya niat untuk itu.

Ironis

Bisa dikatakan hampir semua pedagang musiman itu adalah warga biasa, bukan pengusaha. Lalu kalau untuk berjualan selama 1 bulan harus sewa tempat dengan biaya Rp. 350.000 tentunya merupakan biaya operasioanl tambahan yang sejujurnya cukup menyita pendapatan mereka. Tapi kenyataannya, untuk berjualan di trotoar itu mereka dikutip retribusi Rp. 350.000 per bulan!

Pertanyaannya, Lho kok bisa? Ya bisa. Apakah biaya retribusi itu pemerintah daerah yang kutip? Bukan, itu organisasi kemasyarakatan yang punya “kerjaan”. ID Card menjadi medianya, dengan punya ID Card pedagang bisa leluasa berdagang. Untuk memperoleh ID Card, maka perlu mengurusnya di “markas” organisasi kemasyarakatan dengan biaya Rp. 350.000. Menurut salah seorang pedagang, uang sebasar itu dapat dicicil 3 kali. Bayangkan, kalau diasumsikan ada sekitar 300 orang pedagang yang membayar upeti maka Rp. 105.000.000 (seratus lima juta Rupiah) mengalir di kantong organisasi kemasyarakatan tadi, sungguh suatu nominal yang besar juga! Ilegalkah kegiatan kutip-mengutip itu? Kurang tau juga, menurut hemat saya kalau memang harus ada retribusi dalam rangka mengatur para pedagang bukankah seharusnya instansi pemerintah yang melakukannya?

Satu hal lagi, walau kerak telor merupakan makanan khas asli Betawi ternyata sebagian besar pedagangnya berasal dari luar Jakarta, ada yang Sunda, Jawa. Mungkin pedagang (yang Betawi) sudah jadi juragan semua bang makanya mereka sudah tidak jualan lagi, kata salah satu pedagang mengakhiri pembicaraan kami.



Artikel terkait:

  • Permen & Uang RecehPermen & Uang Receh Seratus rupiah, lima ratus rupiah, seribu rupiah bahkan lima ribu rupiah tidak membuat bapak, ibu, tante, kakak dan abang jatuh miskin. Demikian pantun sumbang yang keluar dan mengalir […]
  • Mari Dukung Gerakan PemudaMari Dukung Gerakan Pemuda Pemuda-pemudi Ono Niha yang saya banggakan, sebagai organisasi kepemudaan yang pada tanggal 28 Oktober 2015 akan memasuki usia 3 tahun, Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (GPKN) dirasa semakin […]
  • Pembukaan Turnamen GPKNPembukaan Turnamen GPKN Akhirnya Turnamen Futsal GPKN Cup 2015 resmi dimulai pada hari Minggu (04/10/2015). Awalnya saya beserta beberapa Ketua DPP GPKN meragukan jalannya turnamen, salah satu event yang […]
  • Ada Photo Gallery di Mendrofa.ComAda Photo Gallery di Mendrofa.Com Ketika diundang untuk menghadiri acara komunitas pecinta fotografi di daerah Kemang beberapa waktu yang lalu, saya jadi terinspirasi untuk berbagi dengan menggunakan media foto. Sayang […]

2 Comments

  1. Its ridiculous how much more attention I receive from the opposite sex when I go to sports shops!

  2. taju says:

    numpang lewat,salam kenal aja

Comments are now closed for this article.