Festival Bawömataluo 2011, Momentum Bangkitnya Pariwisata Kepulauan Nias
Siapa sih yang tidak kenal dengan atraksi lompat batu (hombo batu)? Gambar lompat batu pernah pula menghiasi mata uang Rupiah, bagi pengguna TransJakarta (BusWay) hampir tiap hari menonton iklan pariwisata yang salah satunya menampilkan atraksi lompat batu lewat monitor TV yang ada di tiap halte. Seakan kata lompat batu identik dengan Nias. Tetapi Nias tidak hanya lompat batu, Nias juga identik dengan surga bagi para surfer profesional dari mancanegara yang datang berbondong-bondong menaklukkan ombak Nias. Ada beberapa spot surfing selain pantai Lagundri / Sorake yang sudah melegenda di kalangan peselancar (surfer) misalnya seperti kepulauan Hinako khususnya di pulau Asu dan Bawa di Nias Barat, pantai Mo`ale dan pulau Sibaranun di Nias Selatan. Sebagai tambahan, ombak di pantai Lagundri/Sorake masuk dalam top ten dunia bahkan disebut-sebut yang terbaik di dunia setelah Hawai.
Selain lompat batu dan surfing, Nias mempunyai kekayaan budaya seperti tari perang, mogaele (tari), hoho (semacam puisi / syair), tari moyo (tari elang), feta batu (musik tradisional), tari maena (tarian massal). Nias juga mempunyai berbagai macam ukiran baik yang dituangkan dalam media kayu maupun batu, punya puluhan situs megalitikum di berbagai tempat. Rumah adat Niaspun tidak ketinggalan unik dikarenakan arsitekturnya dan telah terbukti tahan gempa bahkan beberapa rumah adat yang diperuntukkan sebagai rumah raja (Omo Sebua) ada yang sudah berumur ratusan tahun, rumah tua ini dapat ditemukan di desa Bawömataluo, Hilinawalö Fau, Hilinawalömazinö dan Ono Hondrö.
Akan tetapi nasib rumah raja / Omo Sebua di Hilinawalömazinö dan Ono Hondrö tidak seperti di Bawömataluo yang selain terkenal juga terpelihara dengan baik dan dapat diakses dengan mudah. Omo Sebua di Hilinawalömazinö sudah sangat tua, sebagian kayunya ada yang lapuk, rumah adat inipun masih bisa berdiri dikarenakan ditopang oleh balok-balok kayu di kiri kanan rumah yang mampu menopang rumah adat ini dari keruntuhan, ironis. Bila turis ingin mengunjungi Omo Sebua di Hilinawalömazinö maka akan mengalami kesulitan transportasi karena tempat ini belum bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat. Nasib hampir sama juga dialami oleh Omo Sebua di desa Ono Hondrö, rumah adat ini tampak tidak terawat, jalan raya ke desa ini juga belum diaspal. Kemudian Omo Sebua di Hilinawalö Fau, nasibnya juga sama tidak bisa diakses dengan mudah karena jalannya buruk, kendaraan roda dua sudah bisa masuk ke desa ini lewat desa Bawögosali.
Dari ke empat Omo Sebua tersebut maka yang gampang dikunjungi hanya yang ada di desa Bawömataluo, kalau pemerintah berniat memajukan pariwisata di daerah ini maka pembangungan infrastruktur jalan raya ke 3 desa adat ini tidak bisa ditawar lagi, harus dibangun. Heran juga dengan pemerintah daerah Nias (sebelum pemekaran Nias Selatan), walau desa-desa ini masuk ke brosur-brosur lokasi wisata Nias tetapi pemerintah tidak membangun infrastrukturnya, uh gerah/gregetan kan dengarnya? Padahal desa Ono Hondrö dan Hilinawalö tidak jauh dari desa Bawömataluo yang artinya wisatawan bisa mengunjungi ketiga daerah ini dalam satu rute perjalanan, sehari sudah lebih dari cukup. Setelah desa Bawömataluo, ada desa Siwalawa kemudian desa Ono Hondrö dan terakhir desa Hilinawalö. Kalau wisatawan masih cukup waktu, bisa mengunjungi desa Lahusa Fau, desa Hilisimaetanö, desa Orahili Fau dan sebagainya karena desa-desa adat ini saling berdekatan (kecuali Hilinawalömazinö).
Singkatnya, potensi wisata kepulauan Nias sangat beragam dan bisa dijual sebagai suatu industri yang bisa mensejahterakan warganya. Akan tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan sebaliknya, pariwisata di kepulauan Nias tidak berkembang bahkan mundur dimulai sejak krisis ekonomi tahun 1998 disusul dengan tsunami dan gempa yang melanda daerah ini beberapa tahun lalu. Industri pariwisata di kepualauan Nias bisa dibilang mati suri. Kapal-kapal pesiar yang dulunya pernah merapat ke daerah ini tidak pernah muncul lagi, Sorake Beach Hotel yang merupakan hotel bintang 3 satu-satunya di Nias sepi, angka hunian hotel di Nias relatif tidak meningkat bahkan menurun.
Kalau diperhatikan, rata-rata wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Nias adalah wisatawan “nekat”, backpacker, petualang dan para penikmat surfing ataupun surfer profesional yang artinya industri pariwisata Nias masih eksklusif , seakaan hanya cocok bagi turis-turis tertentu. Walaupun keindahan alam dan budayanya tiada duanya tetapi kalau tidak dikelola sesuai dengan selera turisme maka pariwisata di kepulauan Nias khususnya dan di Indonesia secara umum hanya akan jadi tempat wisata nan indah namun sepi pengunjung. Sudah saatnya pemerintah dan pihak yang bekerpentingan dengan industri pariwisata untuk bekerja keras dan berniat memajukan industri ini.
Kita patut mengapresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif warga desa Bawömataluo yang menyelenggarakan event tahunan festival Bawömataluo 2011 yang bernama resmi Pagelaran Atraksi Budaya dan Pameran Promosi Hasil Kerajinan Bawömataluo 2011. Ternyata tanpa pemerintah sebagai pendukung utama warga bisa melakukannya sendiri. Kita berharap festival ini jadi momentum kebangkitan pariwisata kepulauan Nias khususnya dan Indonesia secara umum. Semoga!


