Hidup Itu Selalu Penuh Perjuangan
Saya telah sering mendengar bila berdiskusi dengan teman-teman saya yang kurang lebih mengatakan “….. orang yang puas akan sesuatu yang telah ia capai, sesungguhnya akan “mati” pelan-pelan”, tentunya bukan mati benaran loh. Ini hanyalah semacam perumpamaan, “mati” disini bisa diartikan tidak akan maju-maju, tidak berkembang, mengalami stagnan. Sadar atau tidak sadar dengan adanya rasa puas, seseorang tidak akan lebih produktif, tidak kreatif dan lama-lama akan ketinggalan banyak hal. Hal ini bukan semata-mata karena performa atau produktifitas sesorang yang puas tadi berkurang, tetapi didorong juga oleh faktor eksternal, hei dunia berubah begitu cepat dengan berbagai tantangan dan inovasinya.
Nah, untuk mengantisipasi dunia yang berubah begitu cepat dengan berbagai tantangan dan inovasinya itu maka seseorang dituntut untuk selalu “berevolusi”, selalu “fight“. Setuju ya saudara-saudari setanah air? Selanjutnya untuk merujuk pada tindakan akan puas terhadap sesuatu hal yang dicapai saya menyebutnya zona kenyamanan.
” Tinggalkanlah zona kenyamananmu “
Tentunya Anda pernah berada di zona ini kan? Sebut saja hal kecil ini misalnya, kita dulunya semuanya pernah melalui masa-masa kecil yang istimewa: dimandiin, dimanja, disuapin kalau lapar tinggal teriak dan makanan akan segera tersedia. Singkatnya kita melalui masa-masa kecil yang istimewa, bahagia, nyaman. Inilah zona kenyamanan kita ketika masih kecil. Apakah kita mau mempertahankan kenyamanan ini terus-menerus? Tentunya tidak! Atau contoh lain, posisi Anda saati ini di kantor sudah di level Manager dengan umur masih 30-an tahun, tetapi jabatan ini tentunya Anda tidak butuhkan lagi 10 atau 15 tahun lagi bukan? Singkatnya Anda harus “keluar” dari zona ini, bila tidak, Anda akan “mati”.
Pembaca blog saya yang budiman (*halah). Harus diakui untuk meninggalkan zona kenyamanan kita memang agak berat akan tetapi disisi lain mau tidak mau zona kenyamanan kita tersebut haruslah segera ditinggalkan atau siap-siap si zona kenyamanan tadi justru akan mempersulit kita dikemudian hari, bukankah tidak ada hal di dunia ini yang abadi? Begitupun dengan zona kenyamanan kita, mau tidak mau suatu saat itu akan berakhir. Untuk mengantisipasi dan menghadapinya, maka kita selalu dituntut untuk tidak berlama-lama nyaman di tempat yang saya sebut zona kenyamanan tadi, singkatnya jangan berpuas diri bahkan putus asa menerima begitu saja sesuatu yang kita cap sebagai “nasib” belaka.
Tidak puas bukan berarti tidak bersyukur, justru sebagai wujud bersyukur maka salah satunya dibalas dengan selalu berjuang, semangat. Sudahkah meninggalkan zona kenyamanan Anda dan selalu siap berjuang?
Photo by: uniquefarm.com
* Artikel ini saya tulis dalam rangka meramaikan ultah blog Fight Never Ending ke 3 milik Ani Berta
Comments (2)


Terima kasih partisipasinya ya
Betul dan setuju sekali bahwa zona nyaman jangan sampai membuat kita terlena, justru harus lebih diperjuangkan agar tingkat survive nya bisa lebih panjang.
Terima kasih kembali