Mengglobalkan Kearifan Lokal

“Tola Mate Moroi Na Aila”

Bangsa Jepang mengenal harakiri berupa tindakan bunuh diri untuk menunjukkan keberanian, kesetiaan dan harga diri. Ono Niha (suku Nias) seperti tidak mau kalah saja maka populerlah salah satu slogan legendaris serupa yaitu “tola mate moroi na aila” yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya “lebih baik mati dari pada malu”. Slogan tola mate moroi na aila” dalam konteks melawan korupsi seharusnya bisa dimanfaatkan berbagai pihak untuk dijadikan alat untuk mencegah perilaku korupsi di Nias bahkan Indonesia secara umum. Faktanya, sepertinya para pejabat di Indonesia tidak pernah merasa takut untuk korupsi boro-boro malu.

Selain dihukum, dalam konteks slogan di atas, koruptor juga harus dipermalukan. Perbuatan korup itu adalah memalukan, sebuah aib. Faktanya tidak jarang koruptor di negeri ini justru dianggap sebagai pahlawan dan entah dibayar atau atas kesadaran sendiri banyak juga pendukung sang koruptor yang seakan menjadi perisai hidup.

Kalau seluruh komponen bangsa ini mempunyai prinsip “tola mate moroi na aila” maka saya yakin perilaku korupsi akan lenyap karena pendahulu kita sudah mengajarkan kita budaya malu atas tindakan atau perbuatan yang tercela. Pertanyaannya dengan dipermalukan apakah akan membuat jera? Masih adakah harga diri itu? Kita semua sudah tahu jawabannya.

Bangsa ini secara umum akan maju bila salah satu penyakit birokrat, politisi, penegak hukum bahkan masyarakatnya yaitu korupsi “dimiskinkan” dalam arti korupsi itu tidak diberi tempat dan pelakunya dihukum seberat-beratnya. Saya sengaja “menyalahkan” masyarakat juga karena sesungguhnya di luar birokrat, politisi dan penegak hukum, kita juga sering menyaksikan perilaku masyarakat yang permisif dengan korupsi, seakan perilaku korupsi dimaklumi, sudah biasa bahkan dianggap sebagai “budaya” yang memang menjadi salah satu bumbu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Contoh konkrit dari perilaku buruk masyarakat adalah seperti kebiasaan untuk bersedia menyuap aparat pemerintah daerah ketika akan melamar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau ketika tiba-tiba melanggar peraturan lalu-lintas maka baik oknum petugas maupun pelanggar sama-sama berniat dan sepakat untuk “damai” di tempat. Ibarat dalam hukum ekonomi, kalau ada permintaan, ada penawaran. Karena permintaan menyuap tinggi, maka otomatis yang menawarkan “jasa” untuk disuap tinggi pula. Kalau masyarakat sudah terinfeksi virus perilaku korupsi tentunya semakin berat memerangi para koruptor.

Lambat laun muncullah istilah budaya korupsi, korupsi dianggap sebagai budaya dan bukan kejahatan lagi, mengerikan. Maka (mungkin) tidak mengherankan, tren perilaku korupsi di tanah air semakin menjadi-jadi karena korupsi sudah mendapatkan satu tempat di masyarakat yaitu BUDAYA. Korupsi kejahatan kok, bukan budaya! Begitu pernyataan salah satu pendiri situs detik.com Budiono Darsono dengan gemas ketika diminta pendapatnya tentang korupsi di salah satu televisi swasta nasional.

Kita terlalu sering mendengar atau membaca kata budaya korupsi di media cetak maupun elektronik bahkan dalam percakapan sehari-hari juga kita sering memakai kata budaya korupsi. Marilah kita merubah pola pikir kita, salah satunya dengan membiasakan diri untuk tidak menyebut atau menulis budaya untuk korupsi, cukup korupsi saja karena sekali lagi korupsi itu bukan budaya tetapi kejahatan luar biasa.

Sekali lagi, korupsi itu bukan budaya, korupsi merupakan kejahatan. Saya Kris J. Mendrofa, mengucapkan selamat berakhir pekan buat teman-teman semuanya. God Bless!

 



Artikel terkait:

  • Timba-timba Koe AheTimba-timba Koe Ahe Ada salah satu perumpaan menggelikan dalam bahasa Nias yang buat saya paling cocok saya "hadiahkan" kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas keberhasilannya "merebut" kursi […]
  • OMG, Saya Sudah Lama Tidak MenulisOMG, Saya Sudah Lama Tidak Menulis Tanpa terasa bulan Januari 2012 sebentar lagi akan kita lewati, perasaan baru kemarin merayakan tahun baru, perasaan seharusnya tulisan pertama saya di tahun 2012 ini telah terbit 1 […]
  • Terima Kasih Mr. PresidenTerima Kasih Mr. Presiden Akhirnya presiden Jokowi berani melawan arus untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), jelas tidak populer untuk sebagian orang. Sah-sah saja sih kalau ada yang berbeda pendapat. […]
  • Happy New Year 2014!Happy New Year 2014!

Comments are closed.