Ketika Partai Dikibuli

Di negara yang mapan demokrasinya seperti Amerika Serikat, koalisi merupakan hal lumrah terjadi. Namun tidak semua hal patut disatukan dalam koalisi, ada beberapa hal yang hampir mustahil dikoalisikan dikarenakan alasan ideologi dan kepentingan partai. Nah, kalau di Indonesia sebaliknya, semua bisa saja terjadi. Dengan alasan “walau beda tetapi tetap satu” dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia maka koalisi diantara partai dianggap lumrah terjadi, kendati ideologi partai beda bahkan berseberangan.

Koalisi sih penting, persatuan penting tetapi bagaimana mungkin partai yang mengaku berbasis agama misalnya Partai Keadilan Sejahtera (partai Islam) bisa berkoalisi dengan Partai Damai Sejahtera (partai Kristen)? Secara umum, koalisi diantara dua partai yang berbau agama ini wajar kalau dilihat dari segi toleransi, saling menghargai dan atau untuk menjaga persatuan dan kesatuan anak bangsa.

Tetapi ini dunia politik, dibutuhkan konsistensi dan etika berpolitik. Koalisi kedua partai yang jelas berbeda ideologi ini merupakan penyimpangan luar biasa. Kedua partai ini telah “memperkosa” etika berpolitik dan berdemokrasi. Tindakan mereka justru membunuh demokrasi dan bukan mengembangkan demokrasi yang sehat di Indonesia. Di atas kepentingan elit semata, kedua partai ini mengarahkan konstituennya untuk mengikuti keinginan partai, konstituen kedua partai ini dianggap sebagai “mesin partai” yang bisa diremote control kapan saja, dimana saja sesuai keinginan partai.

Khusus untuk Partai Damai Sejahtera (PDS), di awal kehadirannya partai ini digadang-gadang setidaknya di kalangan umat Kristen sebagai partai yang bersih dan diharapkan netral dan memberikan warna baru dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Di pemilihan umum tahun 2004, PDS memperoleh dukungan dari warga dan berhasil menempatkan kadernya di Senayan dan bahkan berhasil membentuk fraksi tersendiri. Untuk pemilu 2009, suara partai ini anjlok. Penyebab salah satunya karena ternyata partai ini sama saja dengan partai lainnya. Partai PDS tidak berhasil memberikan warna dalam dunia politik Indonesia, bahkan partai ini terjebak dalam kepentingan elit dan asal mendukung dan cenderung ingin mencicipi kue kekuasaan walau dengan cara-cara tidak etis.

Partai Damai Sejahtera (PDS) di DPR periode 2004-2009 kerjanya seakan hanya berjuang menyuarakan penggusuran Gereja, hampir bosan mendengarnya. Seakan negeri ini hanya punya masalah penggusuran Gereja semata. Dan sudah dipastikan, untuk pemilu 2009 saya sendiri tidak respek dengan partai ini lagi. Partai ini ternyata tidak berhasil memberikan warna tetapi ikut arus juga. Bagaimana mungkin kita bisa “didikte” partai semacam ini untuk mengikuti keinginan mereka, misalnya untuk memilih kandidat kepala daerah yang mereka dukung?

Maka warga yang sudah tidak mau dikibuli ramai-ramai memilih kandidat kepala daerah sesuai dengan hati nurani dan hitung-hitungan logis untuk memberikan hak suaranya. Maka tidak mengherankan, pemilukada yang barusan dilaksanakan di DKI Jakarta berhasil membuat negeri ini terbuka matanya. Bahkan lembaga survey pun seakan tidak berdaya, tidak valid dan bahkan jadi tertuduh sebagai lembaga yang hanya bekerja sesuai pesanan atau hanya untuk menyenangkan kandidat tertentu.

Padahal, mungkin saja lembaga survey yang mengunggulkan calon tertentu bisa saja datanya valid, namun menjelang hari pencoblosan warga segera sadar dan tidak terlena dan dengan cepat mengalihkan dukungannya ke kandidat lain. Maka, semakin partai mengibuli konstituennya, konstituen juga tidak kalah pintar bisa mengibuli partai.



Artikel terkait:

  • Timba-timba Koe AheTimba-timba Koe Ahe Ada salah satu perumpaan menggelikan dalam bahasa Nias yang buat saya paling cocok saya "hadiahkan" kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas keberhasilannya "merebut" kursi […]
  • Yes You Can!Yes You Can! Nih posting baru, baru posting nih...... Tanpa terasa sudah tanggal 24 Januari 2009 yang berarti tinggal beberapa hari lagi bulan Januari ini akan berakhir, padahal perasaan baru kemarin […]
  • Reshufle, Reshufle…..!!Reshufle, Reshufle…..!! May Be Yes, May Be No. Inilah komentar miring dari media maupun masyarakat menanggapi reshufle kabinet dan ternyata jawabannya yes. Ya, kemarin kabinet direshufle walaupun cuma sedikit […]
  • Rekor Sang MenteriRekor Sang Menteri Mundurnya Andi Mallarangeng sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia yang langsung diajukan secara lisan maupun tertulis pada hari Jum`at (07/12/2012) kepada […]

Comments are closed.