Gagalkan Kejahatan Jalanan Dengan Intimidasi

Intimitadasi itu bernada negatif, tetapi untuk membela diri itu perlu. Anda pernah menjadi korban kejahatan jalanan? Kalau belum syukur, kalau pernah ya semoga tidak sampai trauma karena trauma justru menyulitkan diri sendiri. Sejauh ini saya belum jadi korban, kalau nyaris jadi korban beberapa kali dan saya “menikmatinya” sebagai pengalaman belaka.

Pengalaman terbaru  yang saya alami terjadi kemarin (28/08), sekitar jam 15.10 di Utan Kayu Utara, Jakarta Timur.  Ketika keluar dari bank yang disambut panasnya terik matahari, saya langsung menghentikan Angkot yang menuju terminal Senen. Sedikit reuni juga sih dengan Angkot ini, pasalnya sudah lebih 5 tahun tidak pernah jadi penumpangnya lagi padahal dulu ketika mulai kuliah saya sering naik Angkot ini, saking akarabnya dengan Angkot ini saya sering adu-mulut dengan sopirnya karena saya hanya bersedia membayar Rp. 1.000 sekali jalan karena argumen saya dekat kok, selain karena uang saku yang memang pas-pasan khas mahasiswa juga tentunya hehe.

Nah, mungkin karena tampang saya rada kalem dengan perawakan pendek pula dengan tas laptop dan baru keluar dari Bank maka  ketika saya menumpang Angkot yang menuju terminal Senen ini jadi sedikit “petaka”. Sebelum naik, saya menanyakan apakah Angkotnya sampai terminal Senen atau tidak dan ternyata sopir menjawab ia sampai.

Setelah Angkot berjalan sekitar 300 meter dengan penumpang hanya satu orang yaitu saya sendiri maka sopirnya mungkin mulai “kreatif”. Dimulai dengan sang sopir melambai-lambaikan tangan ke temannya sesama sopir yang penumpangnya kosong juga, saya pikir mau dipindahkahkan Angkot lain, ternyata tidak. Setelah melewati area Pasar Genjing, ada calon penumpang yang ingin naik tetapi sopirnya melambaikan tangan pertanda mengabaikankan penumpang tersebut. Kemudian mobil melaju kencang melewati jaur yang salah. Saya punya firasat buruk dengan 3 kali keanehan yaitu melambaikan tangan ke temannya, mengabaikan penumpang lain untuk diangkut dan melewati jaur yang bukan semestinya  Padahal jalur yang dia lewati justru memutar dan jauh.

Maka saya langsung menegur sopirnya, teguran pertama diabaikan, teguran berikutnya sama. Saya lalu menggunakan “senjata”  pamungkas, intimidasi. Diawali dengan teriakan keras, “woi kok loe lewat jalan yang salah bang!”. “Mau nyari ribut loe?!” Aih,  sekitar 500 meter sesudah itu saya diturunkan. Sopirnya langsung putar balik, tidak ke arah Senen lagi. Jadilah saya menumpang gratis karena saya jelas tidak bersedia membayar karena diturunkan di tengah jalan. Selesai, titik.

Lain lagi kalau saya pelesiran ke lokasi hiburan di tengah malam dan pulang dini hari dengan naik taksi. Modus sopirnya beda, tanpa alasan logis tiba-tiba mobilnya melambat padahal jalanan lengang tanpa lampu merah. Modus lain adalah sopirnya menginjak pedal gas lalu merem mendadak, berulang-ulang. Yang terjadi mobilnya “batuk-batuk”, seakan-akan mengalami kerusakan. Menoleh kiri kanan di seberang jalan ternyata berdiri beberapa orang dengan mata tertuju ke taksi yang saya tumpangi. Sontak saya menegur sopirnya, “kok mobilnya diperlambat? Jalan terus!” perintah saya. Lagi-lagi saya selipkan intimidasi, “bang, kalau sempat taksinya berhenti, gue keluar taksi dan gak mau bayar!” Akhirnya mobilnya berjalan kencang, aman. Disinilah penumpang bisa jadi korban, di lokasi yang sudah direncanakan, dengan alasan mogok sopirnya punya alasan menghentikan mobil dan sudah diduga kawanannya dengan mudah mendekati lalu memeras korbannya. Untuk kedua modus ini, penumpang harus memaksa taksinya untuk tetap berjalan, penumpangnya jangan sampai kalah “licik” dari sopirnya.

Trik aman naik taksi malam-malam:

  1. Jangan naik taksi abal-abal
  2. Ingat nama sopir dan nomor pintu taksinya
  3. Mengingat nama dan nomor taksi tidaklah cukup kalau penumpangnya sudah jadi korban kejahatan, yang lebih penting lagi kalau kedua modus di atas (modus lain juga banyak) terjadi maka jangan ragu untuk memerintahkan sopirnya untuk tetap jalan.
  4. Jangan duduk di samping sopir, rugi. Duduk di belakang. Selain tidak bisa memantau perilaku anehnya selama dalam perjalanan, penumpang susah membela diri misalnya kalau harus melumpuhkan sopirnya. Kalau duduk di belakang, kan penumpang bisa leluasa melumpukan kepala sopir nakal tersebut kapan saja dengan benda keras misalnya dan ataupun melumpuhkan dengan mencekik lehernya

Bertingkah kalem bolehlah, tetapi jangan sampai panik. Kalau panik penjahat pikir Anda pecundang, jadikanlah penjahat itu yang justru pecundangnya….. hehehe. Sekian. Selamat beraktifitas.

Ilustrasi foto by: hakimrodamas.wordpress.com



Artikel terkait:

  • Yes You Can!Yes You Can! Nih posting baru, baru posting nih...... Tanpa terasa sudah tanggal 24 Januari 2009 yang berarti tinggal beberapa hari lagi bulan Januari ini akan berakhir, padahal perasaan baru kemarin […]
  • “Sabar Ya, Jakarta Sedang Sakit”“Sabar Ya, Jakarta Sedang Sakit” Saya dan sebagian besar warga Jakarta yang melakukan perjalanan dari sore hingga malam di hari Sabtu (22/12) ini pasti baru saja melewati hari yang "berdarah-darah" di jalanan, ya terjebak […]
  • Selamat atas pembukaan Koridor BuswaySelamat atas pembukaan Koridor Busway Tadi pagi pas berangkat saya lihat spanduk yang mengucapkan ucapan selamat atas pembukaan koridor Busway. Ternyata hari ini Busway koridor IV-VII resmi dibuka oleh pemerintah DKI. Saya […]
  • Memaknai & Menghayati Sumpah PemudaMemaknai & Menghayati Sumpah Pemuda Dulu: Nasionalisme, Kini: Sektarianisme? Kita baru saja memperingati hari sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal kesadaran para pemuda 81 yang lalu untuk bersatu membulatkan tekad bahwa […]

Comments are closed.