“Sabar Ya, Jakarta Sedang Sakit”

Saya dan sebagian besar warga Jakarta yang melakukan perjalanan dari sore hingga malam di hari Sabtu (22/12) ini pasti baru saja melewati hari yang “berdarah-darah” di jalanan, ya terjebak macet yang menggila dari sore hingga tengah malam. Bisa dibilang beberapa jam jalanan Jakarta lumpuh total. Dukuh Atas menuju bundaran Hotel Indonesia yang hanya berjarak kurang lebih 1 KM saja ditempuh nyaris 1 jam, total waktu yang saya habiskan di jalan dari Dukuh Atas yang terletak di Jakarta Pusat menuju Gajah Mada di Jakarta Barat lebih 2,5  jam, fantastis. Padahal di waktu pulang kerja sekalipun yang tentunya macet, jalur ini bisa ditempuh dalam waktu 1 jam.

Walau tujuan saya sebenarnya adalah menuju Spark Hotel tetapi saya terpaksa mampir di Gajah Mada Plaza karena sudah kebelet pipis saking lamanya di jalan. Anehnya arus sebaliknya dari arah istana merdeka menuju jalan Sudirman lengang, seperti ketika car free day diterapkan saja. Ternyata penyebabnya adalah adanya luapan air setinggi kurang lebih 1 Meter di perempatan di jalan MH Thamrin, di seberang pusat perbelanjaan Sarinah.

Sampah menutupi lebih separuh badan sungaiKita yang terjebak macet kronis seperti ini hanya bisa menghela nafas panjang, tak banyak hal yang bisa diperbuat. Salah satu faktor yang menjadi penyebab banjir di Jakarta sebenarya karena volume air tidak mampu ditampung oleh drainase yang buruk dan sungai yang dipenuhi sampah. Genangan air yang sering disebut banjir itu sebenarnya belum layak disebut banjir karena kalau dipikir-pikir, air yang tumpah dari langit kalau mengalir dengan benar di selokan-selokan menuju sungai, lalu menuju laut tidak akan membuat air meluap ke jalanan apalagi menyebabkan banjir.

Hampir semua sungai yang melintasi Jakarta kondisinya memprihatinkan, nyaris tidak kelihatan karakteristik aslinya sebagai sungai tetapi lebih cocok disebut tong sampah raksasa. Sampah yang menutupi lebih separuh badan dari sungai sungai menjadi hal lumrah, seperti sungai di dekat Roxy Mas, para pemulung dengan leluasa mengais sampah di tengah sungai tanpa takut tenggelam. Sebagian sungai lagi dimanfaatkan oleh warga yang “kreatif” dengan bercocok tanam di badan sungai yang telah dipenuhi tumpukan sampah yang terisi tanah di atasnya, sekilas seperti sengaja diuruk dengan tanah, padahal kasus ini terjadi karena sampah yang “menggila”.

Kadang kalau sudah tidak sabar, tinggal menghibur diri-sendiri dan berkata kepada diri sendiri: “sabar ya, kota ini sedang sakit”, nanti akan sembuh lagi kalau waktunya tiba. Entah kapan ibu kota republik ini bisa bebas dari genangan air, bisa bebas dari macet yang tampak seperti tiada akhir itu. Ah, mungkin orang-orang paling sabar (atau terpaksa bersabar?) di muka bumi ini adalah yang tinggal di Jakarta…



Artikel terkait:

  • Tua di JalanTua di Jalan Bö`ö mbanua, bö`ö hada begitulah kira-kira pepatah dari daerah Nias yang terjemahan bebasnya kira-kira beda kampung, beda juga adat-istiadatnya. Nah, kalau istilah ini diplesetkan dengan […]
  • Jakarta Banjir Lagi?Jakarta Banjir Lagi? Jakarta banjir lagi?? oh no ....!!! i`ts so bad guys....... Tapi gak heran dan kita juga semua gak heran lagi, wong sistem drainasenya buruk banget, bagaimana airnya mau mengalir. Tapi […]
  • Terima Kasih Java JazzTerima Kasih Java Jazz Sudah 3 tahun belakangan saya gandrungi musik jazz, aliran musik yang dulunya asing di telinga dan beranggapan bahwa musik jazz hanya cocok untuk kalangan tertentu saja, orang tua. […]
  • Jakarta, Kota Gerah yang Penuh SejarahJakarta, Kota Gerah yang Penuh Sejarah Berlibur ke kota Jakarta? Kenapa tidak. Walau kota Jakarta bukan dikenal sebagai kota wisata, ternyata banyak tempat yang bisa Anda kunjungi di sana lho. Sebagai kota tertua dan ibukotanya […]

3 Comments

  1. Budi Majid says:

    Sabar karena keadaan memaksa demikian…lama-lama bisa tambah banyak orang stress di jakarta 🙂
    moga Mas Kris dan saya terhindar dari stress ini..

  2. Cerita Horor says:

    Sedang sakit atau masih sakit atau belum sembuh-sembuh mas? Hehehe… salam kenal dari saya. ditunggu kunbal ya 🙂

Comments are now closed for this article.