Bahasa Ibu atau Hari Ibu?

Ketika saya berkunjung ke Singapura Oktober lalu bersama 2 teman, kami bertemu dengan saudara salah satu teman yang membantu mencarikan alamat hotel yang kami pesan sebelumnya via internet. Di dalam perjalanan, kami terlibat diskusi ringan mengenai rute perjalanan. Di sela-sela pembicaraan, saya menanyakan keadaan anak-anaknya yang ternyata masih pelajar SD. Mengingat anak-anaknya bersekolah dan besar di Singapura dengan mayoritas warganya menggunakan bahasa Inggris ataupun Mandarin, saya menanyakan apakah anak-anaknya bisa berbahasa Indonesia? Tentu jawabnya singkat. Lanjutnya,  “di rumah, kami berusaha mempertahankan penggunaan bahasa Indonesia sebagai komunikasi utama kepada anak-anak”. Keadaaan ini belum membuat saya “terkesan”, biasa saja.

Kemudian dia melanjutkan, tetapi mereka belum bisa berbahasa ibu. Loh, bahasa ibu apa? kan mereka sudah bisa berbahasa Indonesia dan Mandarin (sebagai bahasa ibu), kata teman saya yang merupakan saudara dari istrinya yang bareng-bareng berangkat dari Jakarta, seakan menggugat pernyataan ipar laki-lakinya itu. Sebagai informasi, saudara teman saya itu beretnis Tionghoa baik suami maupun istrinya. Tetapi walau tampang istrinya berperawakan Chinese, ternyata ibu dari istrinya itu adalah etnis Jawa.

Bahasa ibu yang dimaksud tadi adalah bahasa Jawa. “Kan istri saya, mama kamu juga ibunya dari etnis Jawa” katanya berusaha menjelaskan. Ternyata walau prosentase darah Jawa yang mengalir ke anak-anaknya bisa dibilang kecil dibanding dengan Chinesenya dan bisa “diabaikan” mengingat anak-anaknya tumbuh di luar Indonesia dengan orang tua beretnis Chinese mereka masih ingat dan berusaha mempertahankan bahasa ibu. Bahasa Jawa dianggap sebagai bahasa ibu, bukan bahasa Mandarin apalagi bahasa Indonesia. Jelas saya terkesan dengan defenisi bahasa ibu itu.

Nah, saya teringat dengan hari ibu yang di Indonesia di rayakan setiap tanggal 22 Desember. Di berbagai media baik cetak maupun elektronik kita menyaksikan perayaan hari ibu. Kita menyaksikan pelajar SD, SMP, SMU bahkan semua lapisan tak ketinggalan para suami merayakan hari ibu. Perayaan yang mengharukan, bahkan terkadang lebay saking “disakralkannya” hari ibu itu oleh sebagian kalangan. Perayaan yang dangkal, sejauh ini menurut saya. Seakan wajib hukumnya untuk merayakan hari ibu, seolah-olah anak-anak yang tidak merayakan hari ibu itu durhaka. Entah anak-anak ini mengetahui esensi dari hari ibu itu sendiri atau hanya terbawa suasana euforia pesta saja?.

Sementara bahasa ibu seakan dilupakan, tidak “dirayakan”. Diperparah lagi oleh pemerintah yang berencana menghapus bahasa daerah dari kurikulum pendidikan Sekolah Dasar (SD) yang notabene adalah bahasa ibu. Dan kalau bahasa daerah sebagai bahasa ibu yang merupakan aset berharga dan sebagai alat komunikasi diabaikan apakah tidak menggelikan dan atau paradoks bila hari ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember?

Berbeda dengan negara tetangga, mereka tidak melupakan bahasa ibu. Di sekolah-sekolah, bahasa ibu diajarkan secara luas, sementara di Indonesia justru sebaliknya. Mungkin suatu saat nanti bahasa daerah di negeri tercinta ini akan punah dan ketika sudah punah justru bahasa ibu dirindukan dan dirayakan. Jadi memilih (mencintai) yang mana, bahasa ibu atau hari ibu?



Artikel terkait:

  • To Be MaxTo Be Max Hari sabtu kemarin ikut Camp ke Puncak, ini adalah kunjungan saya di awal tahun 2007 tapi ada satu hal yang beda kali ini, jalanan gak macet! Keadaan kawasan Puncak-Bogor sekarang sudah […]
  • Prita Mulyasari Terjerat UU ITE, Kebebasan Berpendapat di Internet TerancamPrita Mulyasari Terjerat UU ITE, Kebebasan Berpendapat di Internet Terancam Beberapa hari terakhir ini nama Prita Mulyasari tiba-tiba saja ramai dibahas di berbagai media baik cetak maupun elektronik terlebih-lebih di dunia maya, ibu dua anak ini yang sekedar […]
  • Tua di JalanTua di Jalan Bö`ö mbanua, bö`ö hada begitulah kira-kira pepatah dari daerah Nias yang terjemahan bebasnya kira-kira beda kampung, beda juga adat-istiadatnya. Nah, kalau istilah ini diplesetkan dengan […]
  • Thailand, Tempat Wisata Alternatif Nan MurahThailand, Tempat Wisata Alternatif Nan Murah Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di bandara Suvarnabhumi, Bangkok - Thailand 2 April 2011 lalu maka kesan pertama yang saya dapatkan di bandara ini adalah pemerintah dan warga […]

Comments are closed.