Hah, Pancasila Pilar Bangsa?

GarudaAda semacam tradisi bahkan “penyakit” segelintir elit di negeri ini yang berimprovisasi menggunakan istilah-istilah yang sulit dicerna, bukan karena istilah yang dimaksud susah dimengerti akan tetapi karena maksud dari istilah itu sendiri telah dimodifikasi, saya lebih senang menyebutnya “diperkosa”.

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang asyik berdiskusi ringan dengan beberapa orang jurnalis, tiba-tiba kami disamperin oleh seorang yang berprofesi hakim tinggi yang namanya tidak saya sebut disini karena bukan tentang sang hakim yang saya bahas, saya ingin bahas tentang Pancasila.

Awalnya, sang hakim memuji media dengan membandingkannya dengan matahari, “yang menerangi dunia ini ada dua yaitu matahari dan media” katanya. Itulah versi sang hakim yang tentunya setengah bergurau dengan pernyataannya itu. Kemudian sang hakim melanjutkan, tetapi terkutuklah mereka yang beranggapan bahwa Pancasila itu sebagai pilar bangsa. Nah loh, ini baru berat….

Tentunya pernyataan terakhir itu sangat keras, bikin panas kuping sebagian orang yang mendengarnya. Saya yang akhir-akhir ini gencar mendengar istilah Pancasila sebagai pilar bangsa dan nyaris mengamininya langsung sadar kalau Pancasila itu dasar negara kita atau ada yang bilang lebih tepatnya landasan falsafah negara kita, bukan justru sebagai pilar bangsa semata.

Memang ada argumen yang mengatakan khususnya di kalangan elit di Senayan bahwa arti pilar itu luas, selain sebagai “tiang penguat” makna lainnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “dasar”, “induk” atau “pokok”. Maka, jika Pancasila dikatakan sebagai pilar bangsa, tentu pilar dalam maknanya sebagai dasar, bukan dalam artian sebagai tiang penguat atau tiang penyangga, sumber: mpr.go.id

Tetapi, apa lacur, kata pilar selama ini sudah identik dengan arti tiang penguat, bukan pondasi. Kalau pun ada survey di negeri ini yang bertanya apa arti pilar itu maka saya yakin jarang yang akan menjawabnya dengan “pondasi, dasar”. Dan kalau maksud hati sebagian kalangan yang mempromosikan Pancasila itu sebagai pilar yang dalam arti sebagai pondasi, maka sudah tentu ada titik temu yang hilang disini. Publik yang mengamini bahwa Pancasila sebagai pilar, akan selalu teringat bahwa memang Pancasila itu sebagai pilar bangsa (pilar dalam arti sebagai tiang penguat), bukan sebagai pilar yang dipikirkan oleh elit di Senayan.

Dan kalau elit di Senayan paham bahwa Pancasila itu sebagai pilar bangsa (dalam arti sebagai pondasi), kenapa mereka tidak pakai istilah “sederhana” saja dengan menggunakan istilah Pancasila sebagai dasar negara atau landasan falsafah negara kita saja? Kenapa harus ada pernyataann sebagai pilar?

Saya yakin kalau Pancasila itu dasar negara, landasan falsafah negara, bukan sekedar pilar bangsa kita. Selamat pagi teman-teman… [@mendrofa]



Artikel terkait:

  • Prahara BENDERAPrahara BENDERA Markas Benteng Demokrasi Indonesia (Bendera) semalam tiba-tiba diserang oleh orang tak dikenal (12/02/2010). Sepintas ini merupakan hal yang luar biasa, namun sebenarnya menurut saya ini […]
  • Pemilu Legislatif 2009: Pemilu Paling Brengsek !Pemilu Legislatif 2009: Pemilu Paling Brengsek ! Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Pemilu Legislatif 2009 merupakan pemilu yang paling brengsek. Kebrengsekan itu bermula dari daftar pemilih tetap (DPT) yang brengsek. Kemudian […]
  • Ketika Partai DikibuliKetika Partai Dikibuli Di negara yang mapan demokrasinya seperti Amerika Serikat, koalisi merupakan hal lumrah terjadi. Namun tidak semua hal patut disatukan dalam koalisi, ada beberapa hal yang hampir mustahil […]
  • Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek?Moral Politisi Senayan Hanya Sebatas Proyek? Semua orang tahu DPR itu merupakan lembaga tinggi negara yang mewakili kepentingan rakyat banyak, namanya saja sudah Dewan Perwakilan Rakyat / DPR. Tetapi dalam prakteknya, tindakan dan […]

Comments are closed.